Longsor di Tobasa Sumut Ini Identitas Korban Tewas yang Dievakuasi


Petugas gabungan dan warga saat mencari korban tertimbun longsoran di Tobasa, Sumut. (Foto: Istimewa)

HORAS - Bencana tanah longsor menerjang empat rumah di Desa Halado, Jalan Lintas Sigura-gura, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara (Sumut), Rabu (12/12/2018) malam. Dalam peristiwa itu, dua orang ditemukan tewas dan dua warga terluka, serta sembilan lainnya dilaporkan hilang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tobasa Herbeth Pasaribu mengatakan, tanah longsor terjadi usai guyuran hujan deras sekitar pukul 23.30 WIB. Ditengarai para korban saat itu sedang beristirahat di dalam rumah.

"Ada empat rumah yang tertimpa tanah longsor. Korban jiwa yang dievkuasi sampai tadi malam dua orang meninggal, luka-luka dua orang. Kami juga masih lakukan pencarian sembilan orang lainnya," kata Herbeth, Kamis (13/12/2018).

Dia mengungkapkan, identitas korban tewas musibah tanah longsor ini yakni Rosdiana Br Nainggolan (35) dan Nia Marpaung (14). Keduanya sempat dibawa ke Klinik PT Inalum namun tak terselamatkan. Jenazah selanjutnya dibawa keluarga ke rumah duka. Sementara identitas korban luka yaitu Jelly Marpaung (12) dan Alpen Marpaung (5). Saat ini keduanya masih mendapatkan perawatan medis.

Herbeth menambahkan, tim gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI dan Polisi dibantu masyarakat masih melakukan pencarian terhadap sembilan korban yang belum ditemukan.

Identitas tujuh dari sembilan korban hilang yakni Jones Tambunan (45), Nur Cahaya br Marpaung (40), Bantu Tambunan (70), Ahmadi Tambunan (23), Serly Tambunan (19), Ambrin Tambunan (13), dan Kasmer Marpaung (39).

"Saat ini kami sudah mengerahkan tiga unit alat berat. Namun lokasinya agak ekstrem dan areal longsor mencapai 50x50 meter. Kami masih membutuhkan bantuan alat berat lainnya karena salah satunya ada yang tertimbun longsoran,” ucapnya.


Petugas gabungan saat mengevakuasi salah satu korban longsor di Tobasa, Sumut. (Foto: iNews/Rifandy Lubis)

Pencarian korban longsor di Desa Halado, Kecamatan Pintu Pohan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara (Sumut), terus membuahkan hasil. Sudah enam jenazah yang ditemukan tertimbun material longsoran. Total saat ini sudah delapan warga dievakuasi meninggal dalam musibah tersebut.

Pantauan iNews, petugas gabungan dari TNI, Polri, Basarnas dibantu masyarakat sekitar berjibaku untuk mencari smbilan korban yang dilaporkan hilang saat longsor menerjang empat rumah warga. Proses pencarian ini mengerahkan empat alat berat yang dikirimkan oleh Pemkab Tobasa.

Setelah hampir seharian menggali dan mengeruk material longsoran, petugas gabungan berhasil mengevakuasi enam korban. Para korban ini merupakan satu keluarga yang rumahnya lenyap tertimbun longsor yang terjadi Rabu (12/12/2018) malam.

Usai dievakuasi, selanjutnya jenazah dalam kantong mayat dibawa ke Klinik PT Inalum tak jauh dari lokasi. Rencannya korban akan langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka.

“Mereka yang dievakuasi masih satu keluarga. Dua perempuan dan empat lelaki. Mereka tinggal dalam satu rumah yang terkena longsor,” kata Arnold Tambunan, kerabat korban di rumah duka.

Selain longsor di Desa Halado, bencana yang sama juga terjadi di ruas jalan penghubung Tobasa menuju Kabupaten Asahan. Hingga saat ini akses jalan itu belum bisa dilewati karena tertutup material longsoran.

Diketahui, bencana tanah longsor menerjang empat rumah di Desa Halado, Jalan Lintas Sigura-gura, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Tobasa, Rabu (12/12/2018) malam. Dalam peristiwa itu, dua orang ditemukan tewas dan dua warga terluka, serta sembilan lainnya dilaporkan hilang. Usai pencarian selama seharian, petugas mengevakuasi enam orang sehingga saat ini sudah delapan yang tewas dan tiga masih hilang.



Berikut identitas korban tewas longsor di Tobasa Sumut yang telah dievakuasi

Ditemukan usai bencana
1. Rosdiana Br Nainggolan (35)
2. Nia Marpaung (14)

Dievakuasi petugas gabungan
1. Bantu Tambunan (70)
2. Jonnes Tambunan (49)
3. Nurcahaya Marpaung (47)
4. Sumadi Tambunan (10)
5. Amri Tambunan (15)
6. Serli Tambunan (19)


(INW)

Rumah di Tobasa Diterjang Longsor

4 Rumah di Tobasa Diterjang Longsor, 2 Korban Tewas, 2 Luka dan 9 Hilang

HORAS - Bencana tanah longsor menerjang empat rumah di Desa Halado, Jalan Lintas Sigura-gura, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Rabu (12/12/2018) malam. Akibatnya, 2 orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, 2 mengalami luka-luka dan 9 orang lainnya dikabarkan hilang (belum ditemukan).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Tobasa Herbeth Pasaribu, mengatakan, tanah longsor yang melanda kawasan itu terjadi sekitar pukul 23.30 WIB, usai hujan deras. Saat itu para korban tengah berada di dalam rumahnya.

"Ada sekitar empat rumah yang tertimpa tanah longsor. Korban jiwa yang dievkuasi sampai tadi malam yakni meninggal dunia 2 orang, luka-luka ada 2 orang. Kemudian diperkirakan masih ada sembilan orang yang dicari," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (13/12/2018).

Adapun dua korban tewas, jelas Herbeth, masing-masing bernama Rosdiana Br Nainggolan (35) dan Nia Marpaung (14). Ia menyebutkan, kedua korban sempat dibawa ke Klinik PT Inalum, lalu jenazah dibawa oleh keluarga ke rumah duka.

Kemudian untuk korban luka yakni Jelly Marpaung (12) dan Alpen Marpaung (5). Saat ini keduanya sudah mendapatkan pertolongan medis.

"Memang bulan ini curah hujan tinggi terutama dalam satu minggu terakhir. Akibat longsor ini, akses jalan dari Kabupaten Tobasa menuju Kabupaten Asahan terputus tidak bisa dilalui. Sedangkan korban sudah dibawa ke Klinik PT Inalum," paparnya.

Herbeth menambahkan, saat ini tim dari BPBD, Basarnas, TNI dan Polisi dibantu masyarakat tengah bekerja melakukan pencarian terhadap 9 korban lainnya yang belum ditemukan.

Adapun 7 dari 9 korban yang belum ditemukan itu masing-masing, Jones Tambunan (45), Nur cahaya br Marpaung (40), Bantu Tambunan (70), Ahmadi Tambunan (23), Serly Tambunan (19), Ambrin Tambunan (13), dan Kasmer Marpaung (39).

Untuk itu, sambung dia, alat berat juga telah diturunkan. Namun lokasi yang ekstrem menyulitkan petugas melakukan pencarian, apalagi areal longsor di lokasi mencapai 50x50 meter.

"Saat ini kita sudah turunkan 3 unit alat berat. Namun lokasinya agak ekstrem, sehingga kita masih membutuhkan bantuan alat berat. Karena 1 unit alat berat tadi malam tertimbun," katannya. (MBD)

Cikal Bakal Sejarah Orang Batak di Jakarta


HORAS — Sejarah orang Batak di Jakarta dimulai ketika mereka membuat jejak berupa perkampungan Batak, gereja, dan deretan ”lapo” atau kedai khas Batak yang tertulis jelas di papan nama lapo, mulai dari ikan mas arsik, sambal teri, hingga saksang, dan panggang. Terselip di antara deretan lapo, warung mi siantar dan pedagang pisang barangan khas Sumatera Utara.

Perkampungan Cawang UKI- Mayasari merupakan salah satu jejak diaspora orang Batak di Jakarta. Di luar itu, banyak juga tersebar dikantong-kantong permukiman orang Batak lainnya di Jakarta dan sekitarnya, yakni di Pulo Mas, Kernolong, Peninggaran, Pramuka, Senen, Taman Mini Indonesia Indah, hingga Tambun (Bekasi).

Awal Mulanya hanya satu keluarga yang berdiam di satu tempat itu, kemudian bertambah berlipat ganda. Kalau sudah ada berdiri rumah makan khas Batak, berarti sudah banyak orang Batak di situ, rasanya kita semua bisa berkesimpulan demikian sesuai fakta yang ada di lapangan.

Martogi Sitohang seorang seniman Batak secara berseloroh mengatakan, cukup satu orang Batak tinggal di satu tempat. ”Nantinya dia akan mencari saudaranya atau dia yang dicari keluarganya. Kalau sudah bertemu, mereka berkumpul,” katanya.

Orang Batak tidak perlu takut tercecer di perantauan. Tinggal Datang saja ke gereja, lapo, dan terminal pasti bertemu dengan saudara. ”Cukup memberi salam, menyebutkan marga, kampung, dan nomor urut silsilah. Contohnya, Sihombing nomor 15, setelah dicocok-cocokkan masih saudara, pintu rumah Sihombing pun pasti terbuka,” kata Martogi lagi.

Makna kekerabatan buat orang Batak itu memang sangat luas. Kekerabatan tidak hanya tercipta karena pertalian darah, tetapi juga karena pertalian marga dan perkawinan. Martogi mengenang ketika pertama kali merantau ke Jakarta ia mencari saudara di gereja dan lapo. Saudara yang ditemukan di perantauan itulah yang membantunya mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia memberikan kabar ke kampung bahwa ia telah bertemu tulang-nya (paman).

Jika si perantau berhasil, biasanya saudara atau teman sekampung akan datang menyusul. Dan, si perantau yang sukses wajib membantu. Itu sebabnya, orang Batak di perantauan terbiasa menampung pendatang Batak di rumahnya. ”Saudara saya dan istri begitu datang ke Jakarta semua tinggal dulu di rumah saya. Setelah mereka mapan, mereka bisa membangun rumah sendiri di tempat lain,” ujar Wahidin Manullang.

Di zaman Gubernur Ali Sadikin, orang Batak dipercaya menjadi pimpinan di pos-pos pemerintahan. Belakangan, Ali Sadikin merekrut banyak sopir taksi, bus PPD, dan guru dari Tanah Batak.

Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan Bungaran Antonius Simanjuntak menengarai, migrasi orang Batak keluar kampungnya didorong pandangan hagabeon (sukses berketurunan), hasangapon (kehormatan), dan hamoraon (kekayaan). Nah, Jakarta dipandang menjanjikan itu semua.

”Begitu orang Batak sukses pulang kampung, cepat-cepatlah anak muda di kampung ikut merantau atau orangtua mengirim anaknya bersekolah supaya bisa jadi seperti orang itu. Satu sukses jadi pengacara, lalu banyak yang terpengaruh ingin jadi pengacara,” katanya.

Budayawan Batak Togarma Naibaho (57) mengatakan, orang Batak umumnya memang merantau untuk sekolah dan bekerja. Pendidikan anak menjadi ukuran keberhasilan orangtua. Kasarnya, orangtua Batak rela melakukan apa saja demi pendidikan anaknya, mulai dari jual kerbau sampai kebun. Tidak heran jika pendidikan orang Batak rata-rata tinggi. ”Di Tahun 1970-an saja, pendidikan perantau Batak di Jakarta rata-rata sudah tingkat SMA,” ujar Togarma.

Sesuai dengan ucapan Togarma, Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra ,menuliskan, orang Batak Toba, Mandailing, dan Karo termasuk orang Indonesia berpendidikan terbaik pada abad ke-19, selain Minangkabau, Minahasa, dan Toraja.

Dengan pendidikan tinggi, orang Batak bisa masuk ke berbagai posisi. Presiden Soekarno, misalnya, banyak melibatkan orang Batak dalam pembangunan. Salah seorang di antaranya adalah Friedrich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal.

Legenda Batak : Ulubalang Mulai Dilupakan


HORAS — Adat istiadat sejarah dan legenda Batak saat ini sudah mulai pudar hampir terlupakan, misalnya seperti Ulubalang.

Ulubalang adalah pemimpin atau pendekar yang siap bertempur demi masyarakatnya, lebih tepatnya Ulubalang adalah Orang atau benda perang (benda magis) penjaga kampung.

Pada jaman penjajahan Belanda, Ulubalang masih ada dan eksis di daerah kabupaten Samosir juga di daerah Tapanuli, karena Ulubalang bertugas untuk menjaga ketertiban desa dibawah kepemimpinan raja-raja di daerah tersebut seperti raja bius dan raja pandua.

Ulubalang yang sering disebut juga “Hupas” mulai terlupakan setelah zaman kemerdekaan, kedudukan posisi dan struktur di daerah batak toba sudah pudar karena dulunya raja diubah menjadi kepala pemangku kepala negeri dan raja pandua dirobah menjadi kepala kampung (kepala desa).

Besar harapan agar para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan segenap marga-marga di wilayah kabupaten samosir dapat menghidupkan kembali budaya Batak Toba termasuk salah satunya yaitu mengenai tentang dan keberadaan Ulubalang. Bertujuan selain menghidupkan meningkatkan kelestarian akan Budaya Batak dan kepariwisataan di kabupaten samosir. Tujuan ini dapat tercapai dengan adanya kerjasama masyarakat dengan pemerintah setempat.

Jika Ulubalang tidak memungkinkan untuk dipertahankan ada di kota-kota besar, setidaknya orang Batak mendukung adanya ulubalang di desa-desa. Sehingga orang Batak atau orang yang bersuku Batak dapat mempertahankan tradisi Ulubalang dan menjadi nilai jual tersendiri bagi Indonesia yang memiliki kebudayaan yang unik, yakni budaya Batak.

Doa Bapa Kami di Sorga - Bahasa Batak


Batak Toba
Ale Amanami nadi banua ginjang.
Sai pinarbadia ma goarMu.
Sai ro ma harajaonMu.
Sai saut ma lomo ni rohaM
Di banua tonga on songon nadi banua ginjang.
Lehon ma tu hami sadari on hangoluan siapari.
Sesa ma dosanami, songon panesanami di dosa ni dongan namardosa tu hami.
Unang hami togihon tu pangunjunan.
Palua ma hami sian pangago.
Ai Ho do nampuna harajaon dohot hagogoon rodi hasangapon saleleng ni lelengna.
Amen.

Batak Simalungun

Ham Bapanami na i nagori atas.
Sai pinapansing ma Goran-Mu.
Sai roh ma harajaon-Mu.
Sai saud ma harosuh ni uhur-Mu
i nagori tongah on songon na i nagori atas.
Bere Ham ma bannami sadari on hagoluhan ari-ari.
Sasap Ham ma dousanami,
songon panasapnami bani dousa ni hasoman, na mardousa dompak hanami.
Ulang ma bobai Ham hanami hu parlajouan,
tapi paluah Ham ma hanami humbani pangagou.
Ai Ham do simada harajaon
ampa hagogohon ampa hasangapon sadokah ni dokahni.
Amen.

Batak Karo

Bapa kami si ni surga.
GelarNdu i Pebadia min.
Reh lah min kinirajanNdu.
Seh lah min bagi peratenNdu
I doni enda bagi ni surga.
Bereken kami nakan cukup bas wari si sendah enda.
AlemiNdu salah kami bagi ni alemi kami salah kalak si lit man kami.
Ula min babaiNdu kami kubas percuban.
Tapi olangi lah kami idur si ilat nari.
Sebab Kam kap si mada kerajaan ras kuasa ras kemulian si ndekah ndekah na.
Amin.

Bahasa Inggris

Our Father in heaven,
Hallowed be your name,
Your kingdom come,
Your will be done,
On earth as in heaven.
Give us today our daily bread.
Forgive us our sins as we forgive those who sin against us.
Save us from the time of trial,
And deliver us from evil.
For the kingdom, the power, and the glory are yours,
Now and forever. Amen.

HORAS

Pomparan (Silsilah) Si Raja Lontung



HORAS — Membahas tentang Pomparan ni Op Tuan Situmorang (Sipitu Ama) tidak lepas dari pembahasan tentang keturunan Raja Lontung. Itu semua dikarenakan bahwa Raja Lontung adalah Bapak dari Ompu Tuan Situmorang.

Pomparan (Silsilah) Si Raja Lontung


Menurut sejarah, bahwa Anak sulung Raja Lontung bernama Situmorang (meskipun sebagian orang berpendapat Sinaga ialah anak sulung Raja Lontung). Semasa hidupnya, Si Raja Lontung mendiami daerah Sabulan (Samosir).

Selain di Sabulan marga Situmorang juga ada di Samosir selatan.
Marga Sinaga didapati juga di Samosir selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain. Di Simalungun terdapat marga cabang Sinaga yaitu: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.

Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan(Silindung). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan.

Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah yang disebutnya Nainggolan di Samosir. Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.

Marga Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho-Samosir.

Siregar pindah ke lobu Siregar-dekat Siborong-borong. Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan.

Marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang.

Marga Peranginangin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.

Inilah Pomparan (keturunan) Si Raja Lontung
Anak-anak si Raja Lontung (Si Sia Sada Ina):
1. Tuan Situmorang (Situmorang).
2. Toga Sinaga (Sinaga).
3. Toga Pandiangan (Pandiangan).
4. Toga Nainggolan (Nainggolan).
5. Toga Simatupang (Simatupang).
6. Toga Aritonang (Aritonang).
7. Toga Siregar (Siregar).
8. Siboru Anak Pandan (menikah dgn Simamora).
9. Siboru Panggabean (menikah dgn Sihombing).


I. Tuan Situmorang.
Raja Pande.
Raja Nahor.
Tuan Suhut (Suhut ni Huta).
Tuan Ringo (Siringoringo).
Dorimangambat (Sitohang Uruk).
Raja Itubungna (Sitohang Tonga-Tonga).
Bonanionan (Sitohang Toruan).


II. Toga Sinaga.
Raja Bonor >> Sidahapintu.
Raja Ratus >> Simaibang.
Sagiulubalang (Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.


III. Toga Pandiangan.
Raja Humirtap (Pandiangan).
Raja Sonang/Samosir (Gultom, Siadari, Pakpahan, Sitinjak) - Siadari>> Harianja.


IV. Toga Nainggolan.
Toga Batu (Batuara, Parhusip)
Toga Sihombar (Rumahombar, Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian) - Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.


V. Toga Simatupang.
Sitogatorop.
Sianturi.
Siburian.


VI. Toga Aritonang.
Ompu Sunggu.
Rajagukguk.
Simaremare.


VII. Toga Siregar.
Silo.
Dongoran.
Silali.
Sianggian.


Sumber: Sejarah Batak, oleh Nalom Siahaan, 1964.

PENGUKUHAN PPRL DI DESA SABULAN - SAMOSIR



HORAS - Bertempat di Desa Sabulan Kecamatan Sitiotio Kabupaten Samosir (18/8) dilaksankan pengukuhan Pengurus Parsadaan Pomparan Raja Lontung (PPRL).
Menjadi tonggak sejarah bagi Pomparan Raja Lontung yang akrab disebut 'Si Sia Sada Ina', keturunannya kini bersatu hati untuk membentuk sebuah wadah silaturahmi yang bernaung di Parsadaan Pomparan Raja Lontung.Dirunut dari silsilah, Raja Lontung telah ada sejak 600 tahun lalu dan kini keturunannya telah tersebar dimana-mana.

Tujuh putra (7 anak) Raja Lontung yaitu: Tuan Situmorang, Toga Sinaga, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang, dan Toga Siregar. Serta 2 (dua) putri (boru) yaitu Siboru Amak Pandan (menikah dengan Sihombing) dan Siboru Gabe (menikah dengan Simamora). Keturunan dari kesembilan anak tersebut telah menandatangani prasasti Parsadaan Pomparan Raja Lontung (PPRL).



Dalam pengukuhan pengurus PPRL Ketua terpilih adalah Mangihut Sinaga,SH, MHum, pada kesempatan tersebut Ketua terpilih diberi " bulang-bulang" dan "tungkot panaluan" kepada beberapa pengurus untuk meberangkatkan Pengurus PPRL bekerja dengan baik.

Ketua terpilih Mangihut Sinaga menyampaikan agar PPRL ini betul bekerja tanpa ada unsur kepentingan Pribadi atau politik. Kita akan bekerja dengan membangun perkampungan si Raja Lontung yang hampir 600 tahun hampir terlupakan. Kita dukung pembangunan di Samosir sebagai daerah Pariwisata kita bangun infrastruktur.



Bupati Samosir Rapidin Simbolon, Wakil Bupati Samosir Juang Sinaga bersama Ketua DPRD Kabupaten Samosir Rismawati Simarmata dari Forkopinda dalam sambutannya menyampaikan selamat kepada para pengurus terpilih. Bupati Samosir menambahkan warga Sabulan harus mensyukuri karena acara pengukuhan pengurus PPRL dilaksanakan didaerah ini. Perlu kami sampaikan bahwa jalan yang melewati Kecamatan Sitio-tio mulai dari Harian sampai Perbatasan Kabupaten Humbanghasundutan sudah ditingkatkan statusnya dari jalan Kabupaten menjadi jalan Provinsi.



Mulai Tahun 2019 dana yang digunakan untuk membangun jalan tersebut berasal dari dana Provinsi, mari kita bersama bekerja khususnya dengan adanya PPRL ini agar dana dari Provinsi bisa disalurkan untuk pembangunan jalan tersebut. Lebih banyak dana yang tersedia di Provinsi dibanding Kabupaten, seperti jalan Ringroad Samosir sampai ke tele sudah ditingkatkan menjadi jalan Nasional, maka pembangunan yang sedang berlangsung saat ini sekitar 600 M menggunakan dana Pusat. Mari bersama membangun Samosir ini khususnya Sabulan ini sebagai perkampungan si Raja Lontung.




LABURA BERDUKA, MENUNGGU PEMDA BEKERJA



HORAS - Jalan yang berlubang, Pemda Labuhanbatu Utara seakan tutup mata dan tidak mau tahu apa yang terjadi terhadap warga dan daerahnya. Telah sering terjadi dan banyak pengendara kereta (sepeda motor) yang menjadi korban masuk ke dalam lubang dan terjatuh sejak jalan di perempatan jalan Serma Maulana, Aek Kanopan - LABURA berlubang.

Lubang jalan tersebut tepat di perempatan sebelum rel kereta api perlintasan kereta api yang tidak jauh dari stasiun Kereta Api Membang Muda, sebelah Barat arah jalan ke jalan Wonosari/Pulo Tarutung, sebelah Selatan jalan ke arah Parluasan, sebelah Timur jalan Serma Maulana, sebelah Utara Sejahtera.



Korban paling parah adalah orang tua yang terjatuh pada lubang yang berukuran sekitar 2 meter tersebut hari ini, setelah melintasi rel kereta api. Tepatnya sekitar pukul 10.30 WIB, atau tadi pagi saat orang tua yang berusia sekitar 60 tahun tersebut hendak berkunjung kerumah kerabatnya di wilayah jalan Serma Maulana (warga setempat menyebut dengan sebutan Kampung Kristen). Orang yang sudah tua tersebut mengalami pendarahan di kepala akibat benturan dengan jalan dan batuan sekitar lubang tersebut serta luka-luka di lengan dan kakinya.



Beruntung, tepat dekat lubang dan terjatuhnya orang tua tersebut terdapat sebuah klinik praktik Bidan dan orang tua yang bernama Bapak Malau (Op. Irma) tersebut langsung mendapatkan perawatan dengan mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya.


Keluarga Korban Sedang Menunggu Orang Tua yang Sedang dalam Perawatan

Sesaat kemudian melintas Kepala Lorong, sebutan KEPLOR untuk seorang penanggungjawab di daerah, sehingga salah seorang warga langsung menanyakan kepada Bapak Horas Nainggolan sebagai Keplor tentang bagaimana reaksinya melihat kejadian tersebut dan apa tindakan yang telah dan yang akan dilakukannya sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap daerah tersebut.



“Sudah dikirim surat ke DPRD Labuhanbatu Utara (Pemda Labura), ya kita menunggu hasil dari surat itu dan tindakannya, katanya.” Warga bertanya ulang, “hanya itu atau apakah adakah hal lain yang dapat dilakukan?”

“Ya kita tunggu saja, sudah disurati setelah itu ya urusan/kewenangan mereka (DPRD), katanya lagi.”

Kemudian, “tutupi saja lubang itu pakai papan,” kata keplor memberikan saran. Namun dijawab, “bahaya bang kalau ditutup pakai papan, karena kan jalan itu diwatii kereta (red:sepeda motor) dan motor (red:mobil),” kata warga menjawab.

Khawatir jika ditutup hanya menggunakan papan orang yang lewat tidak akan mengetahui lubang tersebut dan akan mengalami kejadian lebih membahayakan lagi. Lalu, Keplor tersebut pergi begitu saja meninggalkan warga tanpa melihat orang tua yang barusan saja menjadi korban di wilayahnya itu, sedang dirawat akibat luka dan pendarahan di kepala.



  • Apakah harus menunggu korban lebih banyak lagi atau korban yang mengalami luka lebih parah dan serius bahkan harus meninggal dunia dulu, baru Pemerintah LABURA turun tangan mengurusi warganya?


  • Bagaimana jika yang menjadi korban adalah keluarga Anda, dan kemana anggaran negara untuk perbaikan jalan?


  • Apakah karena kejadian dan rusaknya jalanan terjadi di daerah sehingga pemerintah tidak turut serta bertanggungjawab, dan apa sebenarnya tugas dan tanggungjawab si penanggungjawab daerah tersebut untuk warga di wilayah atau lingkungannya?







Inilah salah satu duka LABURA, hanya jika ada warga yang menjadi korban maka PEMDA akan bekerja, kalau tidak ya begitu-begitu saja. Hal-hal seperti ini-itu seakan sudah menjadi budaya, Pemerintah hanya akan bekerja setelah menunggu ada masyarakat yang mengadu dan itu sudah terjadi dari dulu.