Sedang dalam perbaikan..

untuk informasi dan keterangan lebih lanjut KLIK DISINI >

Headlines News :
Iranian President Mahmoud Ahmadinejad will seek support from Latin America's leftist leaders on a tour starting....... Read Full Post
1 2 3 4 5 6

Istilah Karo Melayu

Istilah Karo Melayu
Selain Batak Dalle dan Batak Pesisir, sering juga terdengar istilah Karo Melayu. Mereka ini adalah keturunan Karo yang juga beradaptasi dan berakulturasi menjadi orang Melayu. Umumnya mereka berdomisili di Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, sebagian Asahan, dan daerah Langkat.

Mereka adalah warga Karo Jahe (Karo bawah) yang wilayahnya dikuasai oleh Kesultanan Melayu Deli, Kesultanan Bedagai, dan Kesultanan Langkat. Oleh kesultanan2 Melayu tersebut mereka tidak dijadikan sebagai warga taklukan, akan tetapi diakui sebagai warga kerajaan tersebut. Selama berabad mereka menjadi orang Melayu dengan membuang merga(marga) Karonya, memeluk agama Islam dan berbahasa Melayu dalam kesehariannya.

Kesultanan Melayu Langkat, Kesultanan Melayu Deli, Kesultanan Bedagai, dan Kerajaan Haru, Kerajaan Wampu di Medan sesungguhnya menurut catatan sejarah juga didirikan oleh orang-orang Batak Karo yang juga mengadopsi budaya Melayu dalam segenap aspek kehidupannya. Oleh sebab itu kesatuan antara Pihak Kesultanan dengan warga Karo Melayu seolah tidak terpisahkan, karena memang mereka umumnya berasal dari Suku Karo dengan sedikit campuran Melayu dari pesisir pantai.

Istilah Karo Melayu

Dalam perkembangan selanjutnya juga banyak berdatangan orang Karo Gunung (karo Atas) dari daerah Tanah Karo ke wilayah Langkat, Medan, Deli Serdang, dan Bedagai. Mereka pun akhirnya juga mengubah identitas diri mereka menjadi orang Melayu. Mereka inilah yang sekarang dikenal dengan istilah Karo Melayu.

Seperti para Batak Dalle di Sumatera Timur, para Karo Melayu ini pun akhirnya juga mulai banyak yang kembali menyadari asal usul keluarganya. Pada tahun 1950-sekarang, mulai banyak mereka yg kembali menggunakan Merga (marga) Karonya. Akan tetapi budaya, bahasa daerah Karo, dan adat istiadat Karo mereka yang sudah hilang selama beberapa generasi memang sukar untuk dikembalikan. Sehingga mereka tetap diklasifikasikan sebagai warga Karo Melayu.

Istilah Batak Dalle dan Batak Pesisir jarang disebutkan untuk orang-orang Karo Melayu ini, karena lebih umum disebut Karo Melayu, dan mereka pun cenderung lebih suka mengklasifikasikan dirinya sebagai orang Melayu.
Tentu saja itu adalah hak mereka.

Istilah Karo Melayu = Batak Pesisir = Batak Dalle
Sumber:
http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783

Istilah Batak Pesisir

Istilah batak pesisir ini sering digunakan sebagai istilah untuk menyebut orang-orang asli bersuku Batak bermarga Batak Toba dan Angkola serta sebagian Pakpak yang bermukin di pesisir pantai Barat Sumatera Utara yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Melayu Pesisir Barat (Mirip bahasa Minang).

Batak Pesisir itu sebenarnya orang Batak yang berada di Pinggiran Pantai. Mereka hidup bersama macam macam Kaum. Tetapi lebih dominan hidup bersama Puak Minang, Puak Melayu dan juga sesama Batak. Mata pencarian orang Batak Pesisir adalah Nelayan pada umumnya. Bukan bertani. Dikarenakan tanah nya tidak cocok untuk bercocok tanam. Tanah Pantai mempunyai serapan air asin yang banyak dan juga berpasir. Cuma beberapa tanaman yang hidup seperti Kelapa dan sedikit sayuran. Anda tahukan hidup nelayan itu bagaimana?
Mereka harus mengarungi lautan lepas berbulan bulan untuk mencari ikan guna penghidupan mereka. Dan mereka pun kebanyakan bertransaksi dilautan. Jarang sekali bertransaksi di daratan. Dari kejadian ini bisa saja mereka singgah di daratan/pulau untuk beristirahat sekalian mengisi bahan bahan makanan serta air tawar untuk minuman. Yang mana tempat mereka bersinggah terdapat suku suku lain di daratan/pulau tersebut. Mereka pun singgah dalam waktu lama, tergantung keadaan cuaca juga. Selama masa itu mungkin terjadi asimilasi bahasa. Dan tak jarang mereka pun menetap disana ataupun sebaliknya nelayan lain juga menetap ditempat asal mereka. Jadi tak heran kalau terjadi pencampuran bahasa dan adat budaya.

Contoh kehidupan seperti ini bisa kita lihat juga di daerah Sibolga, Barus, Sorkam, Manduamas (Tapanuli Tengah/Sibolga) dan seputaran Bukit Barisan, seperti: Batu Mundam, Singkuang, Tabuyung, Reniate dll (Mandailing Natal).
Pada umumnya mereka bisa 3 bahasa sekaligus. Yang dominan mereka mengerti Bahasa Minang, Batak dan Melayu.

Orang Batak Pesisir di Daerah ini juga memakai marga mereka dikarenakan mereka juga mempunyai Raja Raja Marga. Daerah Tapanuli Tengah ( Barus-Sorkam-Manduamas-Tukka) /Sibolga dulu nya dipimpin oleh Raja Hutagalung, Raja Tanjung, Raja Pasaribu, Raja Sitompul, Raja Tarihoran. Dan di Mandailing Natal ( Daerah Bukit Barisan ) tepatnya di Tabuyung dipimpin oleh Raja Hutasuhut. Dan orang orang Batak perantauan yang datang ke daerah ini juga memakai marga mereka supaya lebih diterima atau memudahkan diri untuk bersosialisasi. Orang orang dari Puak Minang juga semuanya memakai marga Ibu nya untuk memudahkan mereka bersosialisasi. Kecuali dari Puak Melayu, dikarenakan tidak memakai sistem marga. Tetapi mereka bisa diterima.

Di Sibolga dan Daerah Bukit Barisan terkenal sekali para Pedagangnya yang tidak bisa ditipu sama sekali. Dikarenakan : apabila mereka bertransaksi dengan Puak Minang, mereka bisa berkomunikasi dengan Bahasa Minang. Dan apabila mereka bertransaksi dengan Puak Batak, mereka juga bisa berkomunikasi dengan Bahasa Batak. Jadi pantasnya mereka disebut sebagai Batak Pesisir atau Batak Campuran.
Terserah andalah mau memposisikan mereka seperti apa.

Inilah istilah Batak Pesisir,
yang bersumber dari http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783

Istilah Batak Dalle

Istilah Batak Dalle banyak digunakan untuk orang-orang Batak atau Keturunan Batak yang sudah tidak paham lagi berbahasa Batak.
Sekarang ini mereka sering mendapat sebutan "Dale".


DALE adalah sebutan untuk orang Batak Dari Tanjung bale atau dari ledong,karena pada umumnya mereka menggunakan marga tapi tak mengerti Paradaton.

Batak DALLE

  1. Keturunan Batak apa saja (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, Karo dan Pakpak) yang sudah tidak bisa berbahasa Batak karena tinggal di daerah rantau yang tidak didominasi oleh suku Batak.

    Catatan : Sebutan Dalle tidak pernah ditujukan untuk warga dan keturunan Batak Gayo, Batak Alas, Batak Kluet dan Batak Singkil yang wilayahnya termasuk Prov. Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Juga tidak umum disebutkan kepada orang-orang Batak Rao yang wilayahnya masuk Prov. Sumatera Barat. Begitu juga dengan Batak di Rokan yang wilayahnya sekarang masuk dalam beberapa kecamatan dalam Kabupaten Rokan Hulu Prov. Riau. Serta tidak lazim disebutkan untuk keturunan Batak (umumnya Batak Mandailing dan Batak Angkola) yang banyak bermukim di Malaysia sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Tidak pernah digunakan untuk warga Suku Lubu yang bahasa daerahnya banyak memiliki kemiripan dengan dialek Mandailing. Dan yang pasti tidak diperuntukkan utk keturunan Nias, karena etnis Nias memang bukan termasuk Suku Batak. Nias memiliki etnis, Hukum Adat, bahasa daerah, dan Budaya sendiri yang tidak memiliki akar sejarah yang sama dengan Suku Batak secara umum. Suku Nias lebih dekat kekerabatannya dengan Suku Mentawai (masuk Prov. Sumatera Barat) dan Suku Enggano (Masuk Prov. Bengkulu).
  2. Sebutan Dalle juga umum diberikan kepada warga Melayu keturunan Batak yang banyak bermukim di wilayah sepanjang pesisir pantai Timur Sumatera Utara (Tebing Tinggi, Asahan, Kisaran, Tanjung Balai, Batubara, labuhan Batu, dsk). Mereka ini adalah keturunan para perantau Halak Batak yang menetap di daerah tanah Melayu tersebut berabad yang silam, kemudian mengadopsi budaya Melayu dan agama Islam dalam kehidupan kesehariannya. Mereka membuang marga Bataknya dan benar-benar terabsorbsi menjadi Suku Melayu selama beberapa generasi.

    Mereka ini adalah keturunan warga beberapa Kesultanan Melayu di Pesisir Timur yang pada awal pendiriannya sebenarnya juga didirikan oleh orang Batak Asli ex para Panglima Paderi bersuku Batak yang diangkat oleh Belanda menjadi Sultan-Sultan di daerah pesisir pantai Timur. (Salah satu bentuk Politik Devide et Impera Belanda untuk memecah kekuatan persatuan Suku-suku Batak di masa lalu).

    Selain itu juga di akhir abad ke-19 banyak perantau Batak dari Toba dan sebagian juga dari Simalungun yang didatangkan Belanda untuk menjadi tenaga kerja perkebunan sebelum masuknya kuli kontrak dari Jawa di awal abad ke-20. Mereka kemudian menetap dan mengubah identitas dirinya sebagai orang Melayu dan memeluk agama Islam dalam segenap aspek kehidupannya.

    Kesadaran akan identitas diri dan asal muasal keluarga baru mulai booming di sekitar tahun 1950-sekarang ini. Saat itu mulai terbuka informasi dan catatan sejarah yang masih bisa ditelusuri walaupun masih secara umum bahwa sebagian diantara orang Melayu tersebut ternyata adalah murni keturunan Batak. Umumnya keturunan Batak Toba, Simalungun, dan juga Karo.

Sejak itu tumbuhlah kesadaran mereka untuk kembali menggunakan marganya. Hal tersebut terus berlangsung hingga kini secara bertahap sebagai suatu fenomena sensasional yang membanggakan.

Sayang sekali kembalinya mereka menggunakan Marga Batak keluarga besar nenek moyangnya tersebut, kerap tidak didukung oleh pengetahuan akan silsilah Tarombo yang pasti. Hal ini disebabkan sudah terputus selama beberapa generasi dan menjadi orang Melayu.

Disamping itu juga tidak didukung dengan pengetahuan Bahasa Batak karena memang mereka tinggal di wilayah yang murni berbahasa daerah Melayu dan juga bahasa Nasional Indonesia. Begitu pula dengan pengetahuan adat dan budaya Batak yang memang telah hilang dari akar keluarga besar mereka selama beberapa generasi sebelumnya.


Sumber:
http://et-ee.facebook.com/topic.php?uid=47641186265&topic=9783

Foto Batak tempo doeloe

FOTO-FOTO BATAK TEMPO DOELOE diambil dari berbagai sumber :

Huta i Tano batak

simin

batak pejuang

oppu




jabu

raja

Inilah Kumpulan foto-foto BATAK tempo doloe.

Pembentukan Otorita Danau Toba

Pembentukan Otorita Danau Toba diusulkan oleh Forum Peduli Danau Toba (FPDT)

danau toba
Forum Peduli Danau Toba (FPDT) mengusulkan pembentukan Otorita Danau Toba yang dibentuk dengan payung hukum setingkat undang-undang. Usulan ini akan dijukan pada Seminar Otorita Danau Toba yang rencananya akan digelar 9 Desember 2011 di Hotel Danau Toba International, Medan.
Ketua FPDT Efendy Naibaho menjelaskan, seminar ini mengundang Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, aktivis lingkungan Longgena Ginting, dan anggota DPD Parlindungan Purba. “Hasil seminar akan diberikan ke perguruan tinggi untuk dikaji. Output-nya adalah naskah ilmiah,” katanya.
Naskah ilmiah inilah yang akan digolkan menjadi rancangan undang-undang dan segera diserahkan ke DPR.

Menurut Naibaho, selama ini perhatian pemerintah terhadap Danau Toba telah terwujud dalam peraturan presiden yang menyatakan danau tersebut sebagai kawasan strategis nasional. “Tapi, kita lihat sajalah hasilnya sekarang ini. Program-program yang ada pun sifatnya hanya hit and run,” ujarnya.
Mantan anggota DPRD Sumatera Utara ini mengatakan, langkah yang strategis untuk memaksimalkan potensi Danau Toba adalah membentuk undang-undang otorita.
“Kalau ada undang-undang kan pendanaannya jelas. Tidak seperti program-program yang ada sekarang ini,” tuturnya.
Tokoh Siantar-Simalungun, dr Sarmedi Purba yang ikut membantu FPDT berpendapat dengan adanya undang-undang tentang otoritas Danau Toba, pelestarian lingkungan dan pengembangan pariwisata akan lebih fokus.
Purba mengatakan, target ini harus tercapai sebelum Pemilu Presiden Tahun 2014. “Calon presiden yang dipilih harus mendukung rencana ini,” ujarnya.

Pengajar Departemen Administrasi Negara USU, Ridwan Rangkuti berpendapat industri pariwisata saat ini memang sangat maju perkembangannya. Namun, menurutnya, yang paling diincar banyak pihak dari Danau Toba saat ini adalah potensi listriknya seperti yang selama ini telah dipakai oleh PT Inalum. “Usulan membentuk undang-undang otorita Danau Toba memang sudah menjadi perhatian nasional. Namun tidak menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut Rangkuti, jika ingin memaksimalkan potensi Danau Toba untuk kemakmuran masyarakat, Pemerintah Sumatera Utara harus bisa mengusainya. Setelah itu, keuntungan yang didapat digunakan untuk konservasi dan pengembangan pariwisata.

Dikutip dari tulisan Wartawan Tribun Medan, Liston Damanik.

Nama - Nama Akhiran MAN

Nama ini diambil dari nama-nama orang Jawa, Saya sebagai admin tidak ada niat untuk menyinggung, tapi karena Dibalik nama-nama pria Jawa sesungguhnya ada harapan tertentu dari orangtuanya, agar anaknya kelak bisa sesuai yg diharapkan.

Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.

Pandai memperbaiki mobil, diberi nama Karman.

Pandai main golf, Parman.

Pandai dalam korespondensi, Suratman.

Gagah perkasa, Suparman.

Kuat dalam berjalan, Wakiman.

Berani bertanya, Asman.

Ahli membuat kue, Paiman.

Pandai berdagang, Saliman.

Pandai melukis, Saniman.

Agar jadi orang kaya, Sugiman.

Agar besar nanti padai cari muka, Yasman

Suka begituan, Pakman

Suka makan toge goreng, Togiman

Selalu ketagihan, Tuman

Suka telanjang, Nudiman

Selalu sibuk terus, Bisiman

Biar pinter main game ... Giman

Biar bisa sering cuti ... Sutiman

Biar jadi juragan sate ... Satiman

Biar jadi juragan trasi ... Tarsiman

Biar pinter memecahkan problem ... Sukarman

Biar pinter bikin jus ... Yusman

Biar jadi orang yang berwibawa ... Jaiman

Biar jadi pemain musik ... Basman

Biar awet muda ... Boiman

Biar pinter berperang ... Warman

Biar jadi orang Bali ... Nyoman

Biar jadi orang Sunda ... Maman

Biar lincah seperti monyet ... Hanoman

Biar jadi orang Belanda ... Kuman

Biar tetep tinggal di Jogja ... Sleman

Biar jadi tukang sepatu handal ... Soleman

Biar tetep bisa jalan walau ndak pake mesin ...Delman

Terakhir, Yg ga bisa dibilangin alias jugul...sotarman


Mohon Maaf Jika ada yang tersinggung.

Baju Naposo Situmorang Yogyakarta

design baju situmorang th 2011
Design baju Situmorang Sipitu Ama YK tahun 2011.

Cp:  
Nerwilson Situmorang (085273101595)
Suwandi Sitohang (081328546699)

Melayani kiriman ke luar kota, tapi pemesanan dan pembayaran di depan, barang dikirim tlg 28 oktober.
Info lebih lanjut hubungi CP nya aja ya.



*Sumber: Gambar baju
Judul/Heading
-------------------- -------------------------
Judul/Heading
-------------------- -------------------------
Judul/Heading
-------------------- -------------------------
Judul/Heading
-------------------- ------------------------- More Article »
Judul/Heading
-------------------- ------------------------- More Article »
Judul/Heading
-------------------- ------------------------- More Article »
 
Support : Cerita Cerita Batak | Lapak GAUL
Copyright © 2011. Horas web id - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website. page rank checker
Topics :