Horas.web.id - Blog Orang Batak | Berisi Tentang Seni, Budaya dan Pariwisata Batak.

Kembalikan Engineer Eropa Ke Tanah Batak?

pandehost
Horas-Manusia mengamati, sejarah mencatat. Ada jejak yang tersisa pada setiap peristiwa mengisi detik waktu. Sayup-sayup jejak itu membayang, terkadang samar, namun masih terlihat cukup jelas. Jejak-jejak itu adalah petualangan bangsa Eropa di bumi pertiwi. Mereka pun meninggalkan cukup banyak legacy nya di tano batak. Disamping penjajahannya yang tidak manusiawi, masih tersisa jejak politik etis mereka pada bangunan sekolah, pada dinding Rumah Sakit, dan pada jalan-jalan raya memanjang membelah bumi Sumatera.

Berkeliling di kawasan RS HKBP Balige memberikan nuansa yang berbeda. Kayu-kayu dan dinding disini masih merupakan hasil rancangan engineer dari benua seberang. Tak jauh mata memandang, rumah di depan sana, yang ditempati orang-orang Batak itu, seolah tak memiliki perencanaan. Berbeda sekali. Berdiri begitu saja, dan ditempati seadanya saja. Tanpa orientasi yang bisa dijadikan representasi keunikan manusianya. Bukankah realita bangunan fisik sebagai cerminan turunan alam pikir? Setidaknya dari apa yang terlihat itu jugalah yang tersirat.

Melihat hasil karya bangsa Eropa pada berbagai macam seni bangunan, seketika mentalitas inlanderisme menyapa ubun-ubun. Benarkah sudah sedemikian jauh bangsa kami ini melorot menuju kehancuran? Sekeropos bangunan-bangunan yang kami dirikan?  Mengapa bangunan peninggalan mereka yang sudah puluhan dan bahkan ratusan tahun itu masih tetap anggun dan kokoh? Sementara bangunan kami? Enggan mata ini memandangnya.

Rindang pepohonan mengelilingi sebuah bangunan tua di sudut kawasan itu. Nuansa asri menggoda langkah untuk rehat sejenak pada sebuah ruang dimana kursi-kursi rotan telah menunggu. lihat itu, beragam pohon-pohon begitu indah dan sejuknya. Sayangnya tak satupun dari kita tahu apa nama pohon itu. Minim sekali pengetahuan semesta yang kita punyai. Kita seperti manusia berjalan tanpa bekal ilmu. Seorang sahabat memaksa wajahku terkekeh mendengar kalimat-kalimatnya  yang selalu bernada humoris melipat-lipat paradoksal situasi.

Tak hanya itu, lihat lagi kusen-kusen bangunan ini. Dari kayu yang paling bagus di kelasnya. Bertahan sudah puluhan tahun melintasi lorong waktu. Dan masih ia menunjukkan eksotisme dan kekuatan yang dibarengi rancangan yang khas Eropa. Juga, sirkulasi udara selalu menjadi perhatian utama engineer jaman dahulu. Padahal dulu belum ada Global Warming. Sekarang suhu jauh lebih panas, namun mengapa rumah-rumah jaman sekarang seolah tak peduli titik aero-sirkulasi?

Contohnya Gereja-gereja kita punya, hampir semua mengandalkan kipas angin dan pendingin ruangan. Kadang saya menjadi terlalu sibuk mencari sapaan angin pada wajah ketimbang mendengar sapaan firman dari mimbar. Saking panas dan pengabnya ruangan itu. Saya kira Tuhan juga tak suka ruangan pengab dan panas yang boros karena selalu mengandalkan kipas angin dan AC. Tak bisakah kita rancang bangunan yang aero-sirkularis yang manis cantik dan anggun? Gereja yang dibangun Eropa, duh, seolah Tuhan ada disana. Begitulah kalau yang membangun dan merencanakan punya ilmu. Lagi-lagi kawanku itu seolah melongok dari atas ubun-ubunku, seraya mencoba memastikan apakah di dalamnya  terkandung seonggok ilmu?

Sore itu menjadi sebuah kilas balik dan perbandingan antar peradaban, antar jaman. Disertai kalimat-kalimat sentimental journey. Tentang pada jaman dulu bhwa sanitasi dan drainase menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari rancangan bangunan. Hampir tidak didapati saluran yang mampet, pipa yang tidak berfungsi. Bila kita menengok hasil karya rancangan Eropa. Ada juga baiknya Belanda pernah menjajah kita. Setidaknya kita masih bisa melihat sisi pembangunan yang bisa dijadikan bahan pelajaran tentang bagaimana membangun rumah yang baik dan benar. Dan selanjutnya bagaimana membangun kota yang nyaman dan menyenangkan. Supaya tidak melulu seperti apa yang kita lihat di sekitar dan sekeliling kita. Utamanya bumi tapanuli yang minim kreasi dan seni bangunan ini.

Perlahan matahari kembali ke peraduannya di ambang senja, menemani langkah kami meninggalkan pelataran Rumah Sakit itu. Disana pernah terjadi kejayaan pelayanan kesehatan yang cukup masyhur. Berbaris di dinding seukuran photo merekam imaji kenangan kepada orang-orang yang pernah mengabdikan hidupnya untuk Tongkat Aesculapius. Bersumpah di bawah kode etik Sumpah Hippokrates. Keterlibatan Ras Arya dalam segala bentuk pengelolaan dan manajemennya tentu salah satu elemen kunci yang menjadikan Rumah Sakit HKBP Balige ini pernah menjadi Rujukan Kesembuhan bagi pasien dari segala penjuru Tapanuli.

Sisa-sisa kejayaan itu kini semakin redup. Dulu pernah dielu-elukan dan kini menjadi disedu-sedankan. Tak ada lagi yang layak untuk ditonjolkan sebagai tonggak prestasi dan pencapaian. Menjadi lemah serapuh bangunannya yang satu persatu mulai menunjukkan gejala ujur dan kerontokan. Umur Rencana berada di titik kritis. Revitalisasi menjadi tantangan sekaligus tugas dan tanggung jawab. Entah ya, apakah HKBP tidak sanggup mengelola assetnya yang sedemikian bertabur itu? atau apakah jemaatnya sudah kehilangan sikap kritis yang membangun? atau apakah Tuhan sedang tidur bersama umatnya yang diam dan berada jauh dari realita hidup?

Keterlaluankah bila hati kecil ini berbisik pelan, Kembalikan Engineer Eropa ke Tanah Batak? Sementara itu, Quo Vadis Budaya Batak? yang konon diarsiteki leluhurnya yang ahli kosmos dan filsuf hidup kesejatian. Dan tak kurang banyak, Artefak Budaya Adiluhung itu pun diboyong ke Eropa, dirumahkan disana. Ah, jadi serba salah pikiran ini. Nikmati sajalah cerita tepian toba edisi tujuh ini!!! </Robinsonlin Simbolon>


Horas : Kembalikan Engineer Eropa Ke Tanah Batak?

Kembalikan Engineer Eropa Ke Tanah Batak?

,

Berita Pilihan