Sejarah Tuan Situmorang

Situmorang anak pertama dari si Raja Lottung. Menikahi boru limbong dan mempunyai 2 orang anak, yaitu :

1. Ompu Panopa Raja
2. Ompu Pangaribuan

Meski Situmorang hanya memiliki 2 orang anak, tetapi Pomparang Ompu Tuan Situmorang (hingga saat tulisan ini) disebut juga sebagai Situmorang Sipitu Ama. cat: bahwa ini hanyalah penyebutan untuk perkumpulan (punguan/parsadaan) saja, bukan penyebutan sebagai atau untuk nama keturunan Ompu Tuan Situmorang. Hal ini terjadi karena semasa hidupnya Tuan Situmorang mengangkat Nini/cicitnya menjadi anaknya.

Pomparan Ompu Tuan Situmorang

1. Ompu Panopa Raja, mempunyai 2 orang anak yaitu :
1.1. Ompu Ambolas mempunyai 2 (dua) orang anak yaitu:
1.1.1 Raja Pande (Lumban Pande) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)
1.1.2 Raja Nahor (Lumban Nahor) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)

1.2 Parhujobung mempunyai 2 (dua) orang anak yaitu:
1.2.1 Tuan Suhut (Suhut Ni Huta) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)
1.2.2 Tuan Ringo (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)

2. Ompu Pangaribuan
2.1 Raja Babiat
2.1.1 Dori Mangambat (Sitohang Uruk) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)
2.1.2 Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)
2.1.3 Op. Bona Ni Onan (Sitohang Toruan) (Nini/cicit Ompu Tuan Situmorang)


Catatan
Cicit (nini) Op. Tuan Situmorang inilah yang ditabalkan (dijadikan) Op. Tuan Situmorang menjadi anaknya. Memang menurut adat batak cicit atau nini adalah anak mangulahi. Jadi Op. Tuan Situmorang tidak salah dan memang benar menjadikan cicitnya itu menjadi anaknya. Kemudian ketujuh cicit (nini) Op. Tuan Situmorang inilah yang saat ini menamakan perkumpulan (punguan/parsadaan) menjadi Parsadaan Situmorang Sipitu Ama (PSSAB) yang tetap kita pakai, kita ikuti sampai saat tulisan ini dibuat.

Ompu Tuan Situmorang adalah anak yang pintar, cerdas, pemberani, disayangi ayahandanya si Raja Lottung, karena sesudah lahir Ompu Tuan Situmorang mulailah cerah, terang (Torang), penghidupan di keluarga Raja Lottung (istri: Boru Pareme) pada saat itu. Hal tersebut yang membuat Raja Lontung dan Boru Pareme memberi nama anaknya Tumorang (Ompu Tuan Situmorang).

Ompu Tuan Situmorang adalah seorang yang bijaksana, cerdas, pintar, pemberani dan berpikiran jauh kedepan serta mempunyai rasa kasih sayang kepada keluarganya dan kepada Pomparannya. Ompu Tuan Situmorang hidup sangat lanjut (panjang umur). Sedangkan anaknya Ompu Panopa Raja, Ompu Pangaribuan beserta tiga orang cucunya yaitu Ompu Ambolas, Parhujobung, Raja Babiat telah meninggal terlebih dahulu jadi dia tinggal bersama-sama dengan cicitnya (nininya) yang tujuh orang yaitu Raja Pande, Raja Nahor, Tuan Suhut, Tuan Ringo, Dori Nangambat (Sitohang Uruk), Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga), Op. Bona Ni Onan (Sitohang Toruan).

Op. Tuan Situmorang berkeinginan agar pomparannya (keturunan) tetap bersatu dan saling bantu membantu disetiap kegiatan diantara pomparannya.

Mengingat bahwa Ompu Tuan Situmorang sudah sangat lanjut usianya, penglihatannya sudah rabun, badannya sudah mulai lemah tetapi semangatnya tetap tinggi untuk membina, menasehati semua pomparannya maka Ompu Tuan Situmorang beserta cicitnya (nini) sepakat untuk mengadakan upacara pesta ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas umur panjang Ompu Tuan Situmorang serta meminta kepada Yang Maha Kuasa agar seluruh cicitnya diberkati dan sekaligus menyampaikan amanah/pesan (TONA) kepada ketujuh cicit (nini) atau anak mangulahinya.

Upacara pesta pun dilaksanakan sesuai yang direncanakan. Seluruh keluarga besar Ompu Tuan Situmorang diundang dan berkumpul. Menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat, panjang umur yang diberikan kepada Ompu Tuan Situmorang.

Kemudian pada acara tersebut Ompu Tuan Situmorang memanggil ketujuh cicitnya (nini) atau anak Mangulahinya untuk diberi pasu pasu (berkat), amanah/pesan (Tona), nasehat dan menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Mulai hari ini kamu ketujuh cicit (nini) saya tetapkan menjadi anak saya, "Sayalah orang tuamu, semua kalian anak saya"

Seluruh cicit (nini) beserta keturunan (pomparan) harus tetap bersatu dan bahu membahu dalam melaksanakan sesuatu yang diperlukan, sampai kapanpun dan dimanapun.

"Sisada anak mahamu sisada Boru, Sisada Lulu anak, sisada Lulu di Boru. Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru, Somba Marhula–hula"

Pada waktu upacara pesta yang dilaksanakan Ompu Tuan Situmorang beserta keturunannya (pomparan), diadakan penyampaian persembahan (satti-satti) yang disampaikan oleh ketujuh cicitnya (nini) atau anak mangulahinya kepada Ompu Tuan Situmorang. Dan persembahan inii dilaksanakan secara berurutan sebagai berikut:

  1. Persembahan (Satti-satti) dari Raja Pande (Lumban Pande). Ompu Tuan Situmorang menerimanya dengan mengatakan Maulate (terima kasih), namalo doho, Pande doho, mangula siulaonmu, kamu kerjakanlah apa yang dapat kamu kerjakan untuk yang baik. Jadi goarmu mulai sadarion Jounma ho Raja Pande (Lumban Pande).

  2. Persembahan (Satti-satti) dari Raja Nohor (Lumban Nahor). Setelah diterima Ompu Tuan Situmorang mengucapkan terima kasih dan mengatakan banyak kerjamu dapat kamu selesaikan dengan baik, mau bekerja sama, pandai dan selalu kamu menganggap bahwa kerja itu dapat kamu laksanakan jadi mulai hari ini saya panggil namamu menjadi Raja Nahor (Lumban Nahor).

  3. Persembahan (Satti-satti) dari Tuan Suhut (Suhut Ni Huta). Setelah diterima persembahan (Satti-satti), Ompu Tuan Situmorang menyampaikan ucapan terima kasih dan mengatakan kamu adalah orang yang baik bijaksana pandai, selalu mau menjadi tumpuan, mempersatukan abang adikmu dan selalu mau menjadi pendorong untuk kebaikan diantara kalian yang abang beradik maka namamu saya panggilkan Tuan Suhut (Suhut Ni Huta).

  4. Persembahan (Satti-satti) dari Tuan Ringo. Setelah di terima persembahan (satti-satti), Ompu Tuan Situmorang mengucapkan terima kasih, mengatakan : Kamu adalah orang yang baik dan yang banyak bicara, kamu selalu banyak menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui orang lain. Mulai hari ini saya panggil namamu Tuan Ringo, saat ini keturunannya menggunakan marga Siringo-ringo.

  5. Persembahan (Satti-satti) dari Dori Mangambat (Sitohang Uruk). Setelah diterima persembahan (satti-satti), Ompu Tuan Situmorang mengucapkan terima kasih, diletakkan satti-satti tersebut di atas Tohang yang ada didalam rumah bagian uruk (dolok/julu), dan mengatakan Kamu adalah orang yang baik, mau bekerjasama dan mau menghargai abang adikmu. Sehingga dari situlah sebabnya saat ini ada sebutan/nama panggilan Sitohang Uruk yang digunakan oleh keturunannya sebagai marga, yang disebut Sitohang.

  6. Persembahan (Satti-satti) dari Raja Itubungna (Sitohang Tonga-tonga). Setelah diterima persembahan (satti-satti), Ompu Tuan Situmorang mengucapkan terima kasih, diletakkan satti-satti tersebut di atas Tohang yang ada di dalam rumah bagian tengah, dan mengatakan: Kamu adalah orang yang baik, mau bekerjasama, rajin, dan mau hormat menghormati. Maka dari situlah sebabnya saat ini ada sebutan/nama panggilan Sitohang Tonga-tonga yang digunakan oleh keturunannya sebagai marga, yang disebut Sitohang.

  7. Persembahan (Satti-satti) dari Ompu Bona Ni Onan (Sitohang Toruan). Setelah diterima persembahan (satti-satti), Ompu Tuan Situmorang mengucapkan terima kasih, diletakkan satti-satti tersebut pada Tohang yang ada di dalam rumah bagian hilir (Toruan atau Jae) dan mengatakan: Kamu adalah orang yang baik, bekerja keras, mau bekerja sama, rajin, dan mau hormat menghormati serta disenangi. Maka dari situlah sebabnya saat ini ada sebutan/nama panggilan Sitohang Toruan yang digunakan oleh keturunannya sebagai marga, yang disebut Sitohang.


Catatan:
  • Nama-nama (panggilan) yang dibuat / ditetapkan oleh Ompu Tuan Situmorang kepada ketujuh cicitnya (nininya) atau anak mangulahinya adalah nama yang baik sesuai karakter, sifat, tempat kejadian (pelaksanaan) dan masing-masing cicitnya (nininya).


  • Nama-nama dan ketujuh cicitnya (nininya) atau anak mangulahi atau nama anak Ompu Tuan Situmorang inilah yang menjadi nama populer dikalangan pomparan Situmorang yaitu : Penyebutan atau pemanggilan Situmorang Sipitu Ama (hanya sebagai penyebutan perkumpulan/punguan/parsadaan untuk menunjukkan identitas ketujuh keturunan Op. Tuan Situmorang saat ini, BUKAN sebagai nama atau panggilan sebagai keturuan dari Pomparan Ompu Tuan Situmorang).


Setelah selesai acara penyampaian persembahan dan pengesahan nama pemanggilan terhadap cicitnya atau anaknya maka Ompu Tuan Situmorang memberi nasehat, petuah-petuah, dan memberkati seluruh anaknya (cicitnya) agar seluruh keturunan / pomparannya diberkati oleh Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Kuasa yang menjadikan langit, bumi, tanah, laut, matahani, bulan, bintang, manusia, hewan, tumbuhan, dan segala isinya. Kiranya pompanan Ompu Tuan Situmorang menjadi berketurunan yang banyak, gabe, mamora, makmur, maju, cerdas, berbudaya dan bersatu.

Urat - Palipi - Samosir

Untuk menjadi pertanda (untuk diingat) oleh keturunan Ompu Tuan Situmorang maka selesai acara pemberian nama dilanjutkan dengan penanaman pohon yang dinamai Jabi-Jabi Sisangapon.

Di Jabi-Jabi Sisangapon ini Ompu Tuan Situmorang mengingatkan lagi agar TONA (pesan) dan nasehat-nasehat serta hal-hal yang telah disampaikan Ompu Tuan Situmorang untuk dilaksanakan oleh pomparannya (seluruh keturuan Op. Tuan Situmorang).

Jabi-Jabi Sisangapon

Jabi-Jabi Sisangapon sampai saat ini dapat kita lihat (jumpai) di dalam lokasi Tugu Ompu Tuan Situmorang di Desa Urat Kecamatan Palipi kabupaten Samosir Sumatera Utara. Untuk mengabadikan nama Ompu Tuan Situmorang pada tanggal 5 — 7 Juli 1990 telah dibangun dan diresmikan Tugu Ompu Tuan Situmorang di Urat kecamatan Palipi Kabupaten Samosir Sumatera Utara (catatan: hingga saat tulisan ini Tugu Ompu Tuan Situmorang sedang dalam keadaan pemugaran - Revitalisasi).

Demikian sejarah ringkas Ompu Tuan Situmorang ditulis dan dipublikasikan, serta dengan sadar bahwa sejarah ini belum lengkap dan jauh dari sempurna. Sehingga mengajak atau meminta kepada seluruh Pomparan Ompu Tuan Situmorang untuk turut serta memberikan masukan atau menambah/mengurangi tulisan tersebut di atas demi kebenaran sejarah Ompu Tuan Situmorang yang sebenarnya, sesuai namanya TUMORANG atau semasa kecil disebut dengan nama TORANG, jadi teranglah silsilah/tarombo Ompu Tuan Situmorang.

Juga, melalui ini meminta kepada para sejarawan, tokoh-tokoh masyarakat, cerdik-pandai, cendikiawan marga atau setiap orang yang berkompeten dengan tarombo Situmorang untuk memberikan saran, nasehat, data-data, fakta sejarah untuk melengkapi, menyempurnakan, menyusun sejarah Ompu Tuan Situmorang ini.


HORAS

Pesan/Amanah Ompu Tuan Situmorang Kepada Sipitu Ama


HORAS - Pesan/amanah (tona) Ompu Tuan Situmorang; Menurut sejarah, Ompu Tuan Situmorang hidup berumur panjang. Kedua Putranya (PANOPARAJA dan O. PANGARIBUAN) meninggal lebih dahulu. Dan ketiga cucunya (O. AMBOLAS, PARHUJOBUNG, dan RAJA BABIAT) juga mendahuluinya.

Rasa kasih sayang, tanggung jawab dan semangat hidup membuat Ompu Tuan Situmorang tidak putus asa. Dia menghimpun ketujuh cicitnya dan memperlakukan mereka sebagai anaknya, Ompu Tuan Situmorang bertindak sebagai ayah.

Mengingat bahwa Ompu Tuan Situmorang sudah sangat lanjut usianya, penglihatannya sudah rabun, badannya sudah mulai lemah tetapi semangatnya tetap tinggi untuk membina, menasehati semua pomparannya maka Ompu Tuan Situmorang beserta cicitnya (nininya) sepakat untuk mengadakan upacara pesta ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas umur panjang Ompu Tuan Situmorang serta meminta kepada Yang Maha Kuasa agar seluruh cicitnya diberkati dan sekaligus menyampaikan amanah, pesan (Tona) kepada ketujuh cicit (nini) atau anak mangulahinya.

Upacara pesta pun dilaksanakan sesuai yang direncanakan. Seluruh keluarga besar Ompu Tuan Situmorang diundang dan berkumpul. Menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat, panjang umur yang diberikan kepada Ompu Tuan Situmorang. Kemudian pada acara tersebutOmpu Tuan Situmorang memanggil ketujuh cicitnya (nininya) atau anak Mangulahinya untuk diberi pasu-pasu (berkat), arnanah, pesan (Tona), nasehat dan menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

Tona Ompu Tuan Situmorang

Bahasa Batak
“Mulai sadari on paojakon ma hamu gabe anakku,
Jala au amamuna. Ingot hamu ma Tonangkon:
Tong tong ma hamu sada. Sisada anak ma hamu
si sada boru, juhut disapa ma di lulu anak, parbue
na pir ma huntion di lulu boru. Anak dohot borumu
ndang jadi masiolian. Borumu ndang jadi masitindian.
Elek mahamu marboru, Somba marraja nitutur,
Jala manat mardongan sabutuha”


Bahasa Indonesia
Sejak hari ini kalian dikukuhkan menjadi anakku
dan aku menjadi ayah kalian. Ingatlah amanahku ini:
Tetaplah kalian bersatu. Putra putri kalian adalah putra-
putri bersama, kalian mempunyai satu tanggung jawab atas
putra putri kalian. Putra putri kamu tidak boleh nikah
sesamanya. Anak perempuanmu tidak boleh tindih menindih
dalam pernikahan. Lembutlah hati kalian terhadap anak perempuan kalian,
Hormatlah kepada pada hula hula (keluarga laki-laki dari istri), dan
Baik-baiklah terhadap satu-sama lain (jangan ribut antara abang-adik satu marga).


Demikian Pesan Ompu Tuan Situmorang Kepada Parsadaan Situmorang Sipitu Ama, hendaklah sampai sekarang hal ini berlaku kepada keturunan-keturuannya atau Pomparan Ompu Tuan Situmorang.

TIHAS - Sastra Situmorang


HORAS - Dua di hami tubuni dainang. Ahu ma siangkangan boru panggoaran. Ibotonghu nahutodohon namargoar Sampe Tua Parmonangan. Disihaetekon nami so inama tabo na. Marlojongi dibatangi sahat tunabot ari. Digadu gadu ni hauma ido hami magodang, marbuntak buntak. Sian gadu gadu i ma hami manatap inong dohot Damang mangula, nungga sai songon horbo paninggala.

Somal na Inong do jumolo mulak sian juma. Dihunti ma inganan ni indahan, di ompa pudihan ibotoku, molo ahu mardalan do maniop niop serep. Omak ma di jolo sada ma tangan nai manogu-nogu ahu. Inong ma tahe sitantas dalan. Damang pukkul onom pe i mulak sian juma, jolo di tambok do bongbongan asa manjulur aek tu bogas nami. Asa malitap songot nai tabo mai ulaon.

Dijabu pintor dihodohon Inong do pardahanan, ahu disuru do manunsi piring inganan ni indahan nami sian balian. Ibotonghu ma pajaga jaga api manobahon asa unang rarat. Molo ndung gurgu pardahan i manigor di gora ito ma inong asa pintor di oroi. Margulut do hami manginup purik ni indahan i, jolo di bahen ma sira otik, molo itokku gula do dibahen. Ingkau rata na niduda ni inong nungga malamot disampur do dohot rimbang, hatandokan annon pe pangpanghonon na ndung satonga masak ingkau rata i.

Ndang pola loja inong paridi hami, boi do hami maridi sandiri. Di dok inong : ingkon boi do maridi sandiri. Jala di dok muse nungga balga hami.

Jolo mulak do Damang sian balian asa marsipanganon hami jala laos disima annon tutungon ni Inong gulamo. Asa mohom allangon unang muap tata. Kepala batu, balelang, kirsik-kirsik ido somal na lompan nami. Nian, olo do digoreng inong i naung suda do miak goreng nami hape masa onan dua ari nae.

Dosdo parpeak ni pinggan dohot simanjojak nami na mangan i. Damang do sibahen tangiang, inong ma jonok tu hudon. Ai inong do parsonduk bolon. Andorang so mangan hami jumolo do diparade inong gadong hau. Jala ingkon allangon do gadong hau on asa boi iba martambu mangan. Margulut do ahu dohot ibotongku manggallang gadong on. Sipata marbada ma hami alani paretongan. Ibotoku mandok dua ponggol dope hu allang gadong jala di dok ibana na niallang ni ibana nungga tolu ponggol. On ma parbadaan di hami na dua.

Laho modom ahu ingkon di lambung ni bapa do. Molo itokku di lambung ni inong. Hapit do hami nadua di tonga-tonga. Sada do gobar nami. Lobi ni tingkar manang amak ima di bahen hami bulusan.

Dinasahali marmeam ultop ma hami di jabu. Ultop on sian sambuhu bulu namenet, harotas ma diparaek hami nalaho peluruna, palatuk ni ultop i tong do sian sada bulu naung diarit mansai gonong. Ima di ultophon.

Apala tongon ma tusimalolong hu sabola siamun di ultophon ibotoku. Maranggung bobar ma ahu, sagogo ni gogona huhut hutiop simalolong hu. Disima muruk Damang. Inong pe patubekbek. Margistang ma bitis ni itokku di bahen Damang. Laos ima binggas mabarbar di ahu sada tigas nabolon ai songon na pedeng nama simalolonghu.

Ndung Singkola


Maila do ahu di singkola ai so goarhu be di gora angka dongan. "Pedeng" inama di Gorahon. Hape songoni uli goarhu di bahen Damang Romauli Hasiholan. Molo di bege itokku si Pedeng digorahon tu ahu. Tangis do ito i. Ai ndang tarjaloso molo i dibahen dongan manggora ahu.

Sahat tu namagodang, ndang apala piga baoa na jonok tu ahu ra ala na pedeng i ma simalolong hu sambariba. Ndang hu andungi be sitaonon hi. Ai songon dia pe hubahen mangalo angka jolma na manggorahon pedeng tu ahu ndang adong be labana. Holan ibotoki nama na sai mangalo, sipata diantung ma pakke batu ise na manghora ahu pedeng. Itokku ma nagabe parlinggoman di ahu.

Jolo marhasohotan do hami na dua asa lao Damang dohot Dainang mangadop Tuhan pardenggan basa i. Ahu tinggal ma di huta jala Anak ni namboru do mangalap ahu, paribanku sandiri. Itokku mangaranto do jala ganup bulan manogos tu ahu andorang so mangoli dope. Burju hian ma itoki tu ahu. Sude do diparade dia angka na husakkapi. Jala nungga huhilala taboni na mariboto.

Ndung pe mangoli itok,i unang majo taringot sitongoson holan paboa barita pe ndang adong be. Na somal ganup bulan adong do surat na, hape nungga mandok sataon ndang adong baritana. Nungga dao be kapal ni ibotoki. Nungga lupa tu ahu. Ndang di ingot be tihas na benahen na on. Ido mambahen mangandung ndang marilu ahu.

Ido mambahen ahu mangandung dinabuni.

Tudos ma on songon masa laluku.


Sastra Situmorang

Filosofi Rumah Adat Batak Toba


HORAS - Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yg dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yg melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yg mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yg terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yg diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah

Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yg diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yg diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dsb yg diperlukan.

Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yg dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.

Biasanya tahapan yg dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yg digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yg diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.

Kayu yg suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yg seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.

Tahapan selanjutnya yg dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yg pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yg mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.

Salah satu hal penting yg mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yg kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yg mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yg berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yg dibantu beberapa tiang penopang yg lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yg bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yg mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.

Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yg mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yg berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yg harmonis dengan tetangga.

Untuk mendukung rangka bagian atas yg disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yg letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yg disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yg layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yg Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama import disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yg dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.

Di sebelah depan bagian atas yg merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yg kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yg mengatakan “Kalau ada jarum yg patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yg salah jangan disimpan dalam hati”.

“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yg membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan “list plank”. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yg menahan atap yg terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yg sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yg berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yg selalu peduli terhadap apa yg terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan Rumah Batak

Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yg dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yg disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yg mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”

Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yg disebut dengan “talaga”. Semua yg kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yg mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yg dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yg tercela atau perbuatan yg dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.

Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yg empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yg disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yg tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yg mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.

Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yg kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah parapara dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yg mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yg artinya kira-kira jika manusia yg bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yg adil dan selalu diayomi.

Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yg berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yg berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.

Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yg cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yg punya rumah adalah orang yg senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.

Salam Khas Orang Batak dan Falsafah Budaya Batak

Salam Khas orang Batak dan falsafah kebudayaan batak -Berkas: Ahnenhaus der Batak Toba.jpg

HORAS - Tiap puak Batak memiliki salam khasnya masing masing. Meskipun suku Batak terkenal dengan salam Horasnya, namun masih ada dua salam lagi yang kurang populer di masyarakat yakni Mejuah juah dan Njuah juah. Horas sendiri masih memiliki penyebutan masing masing berdasarkan puak yang menggunakannya.
  1. Pakpak “Njuah-juah Mo Banta Karina!”
  2. Karo “Mejuah-juah Kita Krina!”
  3. Toba “Horas Jala Gabe Ma Di Hita Saluhutna!”
  4. Simalungun “Horas banta Haganupan, Salam Habonaran Do Bona!”
  5. Mandailing dan Angkola “Horas Tondi Madingin Pir Ma Tondi Matogu, Sayur Matua Bulung!”

Kekerabatan Orang Batak


Kekerabatan adalah menyangkut hubungan hukum antar orang dalam pergaulan hidup. Ada dua bentuk kekerabatan bagi suku Batak, yakni berdasarkan garis keturunan (genealogi) dan berdasarkan sosiologis, sementara kekerabatan teritorial tidak ada.

Bentuk kekerabatan berdasarkan garis keturunan (genealogi) terlihat dari silsilah marga mulai dari Si Raja Batak, dimana semua suku bangsa Batak memiliki marga. Sedangkan kekerabatan berdasarkan sosiologis terjadi melalui perjanjian (padan antar marga tertentu) maupun karena perkawinan. Dalam tradisi Batak, yang menjadi kesatuan Adat adalah ikatan sedarah dalam marga, kemudian Marga. Artinya misalnya Harahap, kesatuan adatnya adalah Marga Harahap vs Marga lainnya. Berhubung bahwa Adat Batak/Tradisi Batak sifatnya dinamis yang seringkali disesuaikan dengan waktu dan tempat berpengaruh terhadap perbedaan corak tradisi antar daerah.

Adanya falsafah dalam perumpamaan dalam bahasa Batak Toba yang berbunyi: Jonok dongan partubu jonokan do dongan parhundul. merupakan suatu filosofi agar kita senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah teman terdekat. Namun dalam pelaksanaan adat, yang pertama dicari adalah yang satu marga, walaupun pada dasarnya tetangga tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan Adat.

Masyarakat Batak memiliki falsafah, asas sekaligus sebagai struktur dan sistem dalam kemasyarakatannya yakni yang dalam Bahasa Batak Toba disebut Dalihan na Tolu. Berikut penyebutan Dalihan Natolu menurut keenam puak Batak
  • Dalihan Na Tolu (Toba) • Somba Marhula-hula • Manat Mardongan Tubu • Elek Marboru
  • Dalian Na Tolu (Mandailing dan Angkola) • Hormat Marmora • Manat Markahanggi • Elek Maranak Boru
  • Tolu Sahundulan (Simalungun) • Martondong Ningon Hormat, Sombah • Marsanina Ningon Pakkei, Manat • Marboru Ningon Elek, Pakkei
  • Rakut Sitelu (Karo) • Nembah Man Kalimbubu • Mehamat Man Sembuyak • Nami-nami Man Anak Beru
  • Daliken Sitelu (Pakpak) • Sembah Merkula-kula • Manat Merdengan Tubuh • Elek Marberru


Pengertiannya :
Hulahula/Mora adalah pihak keluarga dari isteri. Hula-hula ini menempati posisi yang paling dihormati dalam pergaulan dan adat-istiadat Batak (semua sub-suku Batak) sehingga kepada semua orang Batak dipesankan harus hormat kepada Hulahula (Somba marhula-hula).

Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdeka

Dongan Tubu/Hahanggi disebut juga Dongan Sabutuha adalah saudara laki-laki satu marga. Arti harfiahnya lahir dari perut yang sama. Mereka ini seperti batang pohon yang saling berdekatan, saling menopang, walaupun karena saking dekatnya kadang-kadang saling gesek. Namun, pertikaian tidak membuat hubungan satu marga bisa terpisah. Diumpamakan seperti air yang dibelah dengan pisau, kendati dibelah tetapi tetap bersatu. Namun kepada semua orang Batak (berbudaya Batak) dipesankan harus bijaksana kepada saudara semarga. Diistilahkan, manat mardongan tubu.

Boru/Anak Boru adalah pihak keluarga yang mengambil isteri dari suatu marga (keluarga lain). Boru ini menempati posisi paling rendah sebagai 'parhobas' atau pelayan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun (terutama) dalam setiap upacara adat. Namun walaupun berfungsi sebagai pelayan bukan berarti bisa diperlakukan dengan semena-mena. Melainkan pihak boru harus diambil hatinya, dibujuk, diistilahkan: Elek marboru.

Namun bukan berarti ada kasta dalam sistem kekerabatan Batak. Sistem kekerabatan Dalihan na Tolu adalah bersifat kontekstual. Sesuai konteksnya, semua masyarakat Batak pasti pernah menjadi Hulahula, juga sebagai Dongan Tubu, juga sebagai Boru. Jadi setiap orang harus menempatkan posisinya secara kontekstual.

Sehingga dalam tata kekerabatan, semua orang Batak harus berperilaku 'raja'. Raja dalam tata kekerabatan Batak bukan berarti orang yang berkuasa, tetapi orang yang berperilaku baik sesuai dengan tata krama dalam sistem kekerabatan Batak. Maka dalam setiap pembicaraan adat selalu disebut Raja ni Hulahula, Raja ni Dongan Tubu dan Raja ni Boru.

Nama - Nama Gorga Batak



HORAS - Gorga Batak Toba adalah kesenian ukir ataupun pahat yang biasanya terdapat pada bagian luar (eksterior) rumah adat Batak Toba dan alat kesenian (gendang, serunai, kecapi), dan lain sebagainya.

Gorga dapat disebut sebagai corak atau motif yang tidak hanya dipahat/diukir tapi juga dilukis, dan pada umumnya Gorga Batak hanya menggunakan cat tiga warna : merah, hitam, dan putih. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu, namun sekarang ini sudah sebagian direlif dengan Semen pada rumah-rumah batak permanen dan kemudian mencatnya dengan tiga macam warna.

Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit. Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ingul ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/perahu di Danau Toba.

Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri yaitu:
  • Gorga Ipon-Ipon : terdapat dibahagian tepi dari Gorga; iponipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.

  • Gorga Sitompi : Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.

  • Gorga Simataniari (Matahari) : Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

  • Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin) : Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.

  • Gorga Si Marogungogung (Gong) : Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India. Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.

  • Gorga Singa-Singa : Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak

  • Gorga Jorgom : Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.

  • Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Buah Dada : Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.

  • Gorga Ulu Paung : Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

Itulah nama-nama dan jenis-jenis Gorga Batak, semoga menambah pengetahuan dan sebagai generasi Batak supaya Kita tidak melupakan budaya dan adat-istiadat Batak. Horas

Universitas Sari Mutiara Indonesia Peringati Hari Kebangkitan Nasional


Universitas Sari Mutiara Indonesia Peringati Harkitnas, Laporan Hazelina Vera.


HORAS - Senin, 21 Maret 2018, Universitas Sari Mutiara Indonesia menggelar upacara memperingati hari Kebangkitan Nasional yang diikuti oleh seluruh mahasiswa, dosen, stsf beserta Rektor Universitas Sari mutiara Indonesia.

Pada kesempatan kali ini Rektor Universitas Sari Mutiara Indonesia Dr Ivan Elisabet MKes menyampaikan pidato yang langsung disampaikan KOMINFO dan dibacakan kembali di Universitas sari Mutiara Indonesia.

Pidato tersebut berisikan bagaimana perguruan tinggi menghasilkan generasi muda yang bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan juga mengajak sebagai rakyat Indonesia yang mau maju harus mampu menjaga persatuan antar bangsa.

Sebagai generasi muda harus menjadi kreatif. Di mana inspirasi dan ide kreatif generasi muda merupakan landasan utama perkembangan bangsa dengan tidak menampilkan aspek perseteruan bangsa.

Rektor Universitas Sari Mutiara Indonesia juga menyampaikan dalam pidatonya mengucapkan selamat berpuasa bagi yang melakukan ibadah puasa khususnya untuk seluruh sivitas akademika Universitas Sari mutiara Indonesia dan mengingatkan seluruh sivitas akademika Universitas Sari Mutiara Indonesia untuk saling menghargai sesama umat beragama dan saling menjaga persatuan dan kekeluargaan.

Lupa Bernafas - DL Sitorus Meninggal

HORAS — Melalui pesan Whatshapp Sihar Sitorus mengumumkan secara resmi tentang meninggalnya DR Sutan Raja Darius Lungguk Sitorus, atau sering disebut DL Sitorus.

Informasi tersebut diumumkan oleh anaknya Sihar Sitorus, mengatakan: “Benar, bahwa Ayahanda/Ompung kami tercinta, DR Sutan Raja DL Sitorus telah berpulang ke Rumah Bapa di Sorga pada tanggal 3 Agustus 2017, sekitar pukul 14.15 di Jakarta.”

Meninggalnya DL Sitorus berada di Pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA 188 tujuan Jakarta – Medan. Sehingga pesawat tersebut pun ditunda keberangkatannya yang dijadwalkan berangkat pukul 13.35 WIB, Rabu (3/8/2017).

Sihar juga mengatakan, bahwa selama masa hidup beliau mohon dimaafkan atas segala kesalahan almarhum ayah kami DR Sutan Raja DL Sitorus atas segala kesalahan ayahanda/ompung kami semasa hidupnya. Sebelum dikebumikan di Sumatera Utara, Jenazah disemayamkan di Jalan Kebon Raya No.2 Duri Kepa, Jakarta Barat.



DR Sutan Raja DL Sitorus yang menikah dengan Boru Siagian dilahirkan di Parsambilan, Kecamatan Silaen, Toba Samosir, Sumatera Utara. Kemudian almarhum semasa hidupnya berpindah dan besar di Siantar. DL Sitorus beserta istri dikaruniai 5 orang anak yaitu, 2 perempuan dan 3 laki-laki.

Selain dikenal sebagai Pengusaha Sawit yang memiliki luas ribuan hektare, DR Sutan Raja DL Sitorus juga dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki yayasan pendidikan serta pengusaha asal Sumatera Utara ini memiliki gedung-gedung untuk menyelenggarakan resepsi pernikahan suku Batak yang diberi nama “Rumah Gorga” tersebar di Jakarta dan Bekasi juga properti/perumahan, Hotel di beberapa provinsi di Indonesia.