Legenda Antara Ikan Mas dan Tenggelamnya Kapal Sinar Bangun di Danau Toba


HORAS - Danau Toba yang berada di Sumatra Utara (Sumut) memang memiliki cerita tersendiri. Karena itu, tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun kerap dikaitkan dengan sebuah mitos atau legenda yang kental di daerah tersebut, yakni yang terkait dengan ikan emas.

Menurut penduduk setempat, ada legenda istimewa yang mengisahkan terbentuknya danau ini. Dulu kala ada seorang pemuda miskin bernama Toba yang hidupnya bertani dan menangkap ikan.

Suatu hari ia menangkap seekor ikan mas ajaib yang dapat berbicara layaknya manusia. Bingung dengan bentuknya yang tidak biasa, kemudian dia membawanya pulang dan ternyata ikan tersebut berubah bentuk menjadi seorang gadis cantik.


Danau Toba, Antara Legenda Ikan Mas dan Tenggelamnya KM Sinar Bangun

Ikan ini dikutuk karena melanggar aturan yang dibuat oleh para dewa sehingga mengubahnya menjadi seekor ikan. Si gadis yang berubah bentuk dari ikan itu meminta Toba agar tidak akan membocorkan rahasianya.

Toba bersedia memegang janji menyimpan rahasia itu asalkan si gadis mau menikah dengannya. Setelah disetujui maka Toba menikahinya dan gadis itu diberi nama Mina. Keduanya hidup rukun bahagia meski miskin dan memiliki seorang putra yang diberi nama Samosir.

Suatu hari, Toba diperintahkan ibunya mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya, dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa maka dengan kesal ia mengantarkannya. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauk itu dimakan Samosir, akibatnya dia terlambat tiba di ladang.

Toba marah pada anaknya tersebut. Karena terlambat dan menerima makanan yang tinggal sedikit, Toba memukul anaknya sambil mengatakan, “Anak kurang ajar, betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”. Seketika itu juga sang anak sambil menangis pergi menemui ibunya dan menanyakan apakah benar dirinya adalah anak keturunan ikan.

Mendengar hal tersebut, sang ibu pun terkejut karena suaminya telah melanggar janji. Mina kemudian melompat ke dalam sungai dan berubah kembali menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itupun meluapkan banjir besar dan turun hujan sangat lebat sehingga tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir air, Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam.

Desa sekitarnya terendam air yang meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga dan akhirnya membentuk danau raksasa yang dikenal dengan nama Danau Toba, sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.

Walau begitu, tampaknya hal itu memang hanya terbatas legenda. Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia Sutopo Purwo Nugroho memberikan penjelasan logisnya mengenai Danau Toba.

"Danau Toba terbentuk dari letusan gunung api dahsyat (supervolcano). Letusan terbesar dalam peradaban bumi sekitar 73.000 - 75.000 tahun yang lalu. Menyebabkan perubahan iklim global, kepunahan spesies, manusia yang tersisa tinggal 40% saja. Danau Toba adalah warisan dunia," tulis Sutopo dalam akun twitter @Sutopo_PN.


Kini, kisah mengenai ikan mas kembali mencuat seiring dengan tenggelamnya KM Sinar Bangun yang memuat lebih dari 200 penumpang.

Sebuah akun facebook bernama Rismon Raja Mangatur Sirait mengungkapkan, badai besar dan tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun terkait dengan penangkapan ikan mas besar oleh masyarakat sekitar Danau Toba sehari sebelumnya.

Sirait yang menyebut diri sebagai Guru Spiritual Danau Toba menuturkan bahwa dirinya percaya penangkapan ikan mas berbuah malapetaka karena dirinya telah menjalankan ritual di Danau Toba.

“Saya percaya karena saya semalam sudah melakukan parsantabian penghormatan ke penghuni dan penjaga Danau Toba, Sitolu sadalanan, yaitu Sibiding Laut, Siboru Pareme, dan Namboru Naiambaton," kata Rismon dalam posting-annya di akun Facebook miliknya.

Walau begitu, Kepolisian menegaskan tidak ada kaitannya antara penangkapan ikan mas tersebut dengan kecelakaan kapal yang terjadi.

"Tidak ada kaitannya ikan mas itu. Kita tidak percaya dengan yang seperti itu. Soal yang menyebar isu tersebut nanti akan kita selidiki," kata Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan, Kamis (21/6/2018).

Dia menerangkan, tenggelamnya kapal tersebut diduga kuat karena kelebihan kapasitas. Hingga saat ini jumlah penumpang dalam kapal kayu itu diduga lebih dari 200 orang.

"Yang pasti dugaan atas kapal tenggelam itu karena over kapasitas dan kemungkinan cuaca buruk," pungkas MP Nainggolan. (Widi Agustian/OkeZone.com/UcokButet.org)

Pencarian Korban Kapal Sinar Bangun yang Tenggelam Melibatkan Paranormal


Boru Simarmata saat melakukan ritual di pinggiran Pelabuhan Simanindo. (Foto:Abidan Simbolon)

HORAS - "Hu hasundutan," kata Boru Simarmata mengartikan untuk mengarahkan kapal ke arah matahari terbenam, kepada nakhoda kapal yang ikut melakukan pencarian korban tenggelam Kapal Motor (KM) Sinar Bangun di Perairan Danau Toba.

Perempuan yang mengenakan kebaya hitam berselendangkan kain ulos seraya mengunyah sirih, dan pandangannya terlihat setengah terpejam itu adalah paranormal.

Mengapit sehelai sirih di tengah kedua telapak tangan dan kepalanya menunduk itu mengartikan sedang "martonggo" atau dalam bahasa Batak diartikan sedang memanjatkan doa.

Perlakonan kesurupan yang dialami Boru Simarmata adalah bagian dari berbagai cara untuk mencari korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di Perairan Danau Toba, Senin (18/6/2018).

Kapal naas yang mengangkut penumpang 205 orang itu sesuai daftar hilang di data posko Simanindo dan Tigaras, meninggalkan duka dalam. Pencarian dan penyisiran di Danau Toba terus diupayakan melalui berbagai cara.

Sesuai seperti yang diungkapkan oleh Feriasi Sirait yang merupakan Koordinator Relawan rombongan dalam pencarian korban kapal tenggelam bersama wartawan HetaNewscom menyampaikan, harus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan jasa paranormal

Kapal yang mengangkut tim pencarian korban bersama Boru Simarmata itu disuruhnya berhenti di pertengahan Perairan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan Tigaras, Kabupaten Simalungun.

"So jo, ison dua halak," ujar Boru Simarmata menghentikan kapal. Menurut penerawangannya, di bawah kapal berhenti terdapat 2 orang korban tenggelam.

"Baen hamu tadda na," ungkapnya mengartikan untuk menyuruh membuatkan tanda di posisi tersebut.

Tak sampai disitu, Boru Simarmata menghunjuk letak kapal KM Sinar Bangun tenggelam.

"Ison do kapal i manongnong," ungkapnya seraya menunjuk lokasi tenggelamnya kapal.


Paranormal Boru Simarmata saat melakukan ritual di pinggiran Pelabuhan Simanindo. (Foto:Abidan Simbolon)

Mendengar ucapan terawangan Boru Simarmata, rombongan tim pencarian memohonkan kepadanya untuk memanjatkan doa, agar jasad-jasad para korban KM Sinar Bangun yang tenggelam di kedalaman supaya terapung.

"Namboru," ujar rombongan memanggil Boru Simarmata. Rombongan tersebut adalah rombongan dari Relawan Bara-JP Kabupaten Samosir.

"Elek ma jolo asa mumbang akka jolma na i bagas kapal i," sambung rombongan mengartikan agar Boru Simarmata memanjadkan doa untuk jasad korban kapal supaya terapung.

Mendengar permintaan rombongan, Boru Simarmata terlihat menangis. Suaranya terdengar tersendak-sendak.

"Maol do bah, maol," keluh Boru Simarmata dikarenakan alasan sulit untuk memanjatkan doa.

"Suru hamu ma nampunasa kapal i paluahon dua darapati na bontar," utusnya untuk melepaskan 2 ekor burung merpati berbulu putih dilepas oleh pemilik kapal KM Sinar Bangun.

Setelahnya, rombongan tim pencarian saat itu kekurangan tali rapiah untuk mengikatkan pelampung buatan yang akan diberikan tanda. Selang beberapa menit, rombongan berinisiatif untuk bersandar kembali ke Pelabuhan Simanindo mengambil perlengkapan yang diperlukan. (Abidan-Aan/HetaNews.com/UcokButet.org)

Kapal Tenggelam di Danau Toba, Sejumlah Penumpang Tercebur

Petugas mengevakuasi korban kapal tenggelam di Danau Toba (Foto: Dok. Istimewa)

HORAS - Kapal kayu yang diperkirakan membawa puluhan penumpang tenggelam di Danau Toba. Peristiwa terjadi pada sore hari ini.

"Benar ada kapal yang mengangkut masyarakat tenggelam di perairan Danau Toba sore tadi sekitar pukul 17.30 wib." jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Samosir, Maher Tamba, saat dikonfirmasi detikcom, Senin (18/6/2018).

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Maher mengatakan kapal tersebut mengangkut sejumlah warga.

Dia menambahkan kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan Tigaras Simalungun menuju Pelabuhan Simanindo Samosir, Prapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

"Kapal tersebut dari Simalungun menuju Samosir. Dan di perjalanan kapal tersebut tenggelam" jelasnya.

Sembilan orang penumpang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Sementara penumpang lainnya masih dicari. "Yang saya tahu 9 orang ditemukan selamat, yang meninggal belum dapat kabar," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Samosir menyatakan belum mengetahui jumlah pasti penumpang kapal kayu yang tenggelam tersebut. "Belum tahu jumlah penumpang, ini kita masih cek lagi ya," paparnya.

Tenggelam kapal penumpang di Dabau Toba di duga akibat putusnya tali kemudi kapal setelah diterjang ombak dan angin. "Tali kemudinya putus. Karena saat itu, angin dan ombak kencang dan diduga penyebab putusnya tali kemudi," tambahnya.


(Resi Erlangga - detikNews)

Press Release : FORUM PEDULI TRAGEDI DANAU TOBA

“Peduli Tragedi Kemanusiaan di Danau Toba, 7 Organisasi Masyarakat Batak Bersatu Hati”

HORAS ― Tujuh (7) organisasi masyarakat Batak, yakni: Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Forum Bangso Batak Indonesia (FBBI), Yayasan Percepatan Pembangunan Kawasan Danau Toba (YP2KDT), Perkumpulan Komunitas Ekonomi Rakyat Danau Toba (PK-ERDT), Persatuan Artis Batak Indonesia (Parbi), Naposo Batak Jabodetabek (Nabaja), dan Garda Pemuda Gerakan Batak Bersatu (GPGBB) menamakan diri Forum Peduli Tragedi Danau Toba (FPTDT) bersepakat menyatakan kepedulian dan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan menelan korban masyarakat Kawasan Danau Toba (KDT) akibat musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun pada Senin (18/6/2018) kemarin.
FPTDT menyatakan duka mendalam atas korban yang meninggal dunia, luka-luka, dan korban hilang yang belum ditemukan. FPTDT berharap Tim Gabungan yang dikoordinasi Basarnas diberi kesehatan yang prima dan sungguh-sungguh melakukan pencarian korban yang hilang. Kita mendoakan kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahakasih agar proses pencarian dan penyelamatan korban yang hilang dapat berjalan dengan baik.

Selanjutnya, FPTDT telah berdiskusi dan sepakat menyampaikan pernyataan sikap bersama diantaranya:
1. Menyatakan bahwa peristiwa musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun adalah peristiwa luar biasa dan merupakan tragedi kemanusiaan yang harus ditangani secara sungguh-sungguh hingga ke tingkat nasional. Semua oknum dan pemangku jabatan instansi terkait harus bertanggung jawab dan ditindak tegas.

2. Meminta Kementerian Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi secara konprehensif dan menyampaikan rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh Instansi terkait dan Kepolisian RI.

3. Menegaskan bahwa jasa angkutan maritim harus tunduk pada UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran dan peraturan yang berlaku. Forum menilai bahwa pemerintah gagal melakukan kontrol dan pengawasan, sehingga pengelolaan jasa angkutan maritim di KDT hampir seluruhnya melanggar UU No. 17 Tahun 2008 tersebut. Ini terbukti bukan hanya tragedi Senin kemarin (18/6/2018), tetapi juga sudah banyak peristiwa sebelumnya yang tidak ditindak tegas.
Negara/Pemerintah gagal menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi pengguna jasa angkutan maritim di KDT. Di dunia internasional, ini menjadi hal yang memalukan bagi Indonesia karena Danau Toba telah ditetapkan sebagai 10 besar destinasi pariwisata Indonesia.

4. Forum mendorong kepada semua pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh atas tragedi ini. Pemerintah setempat dengan dukungan pemerintah pusat perlu mengevaluasi ulang seluruh sistem operasional maritim di KDT, seperti sistem kepelabuhan, kelengkapan fasilitas keamanan kapal (pelampung, skoci, dll), standar kelaikan kapal, dan para kru kapal (nahkoda, operator, pelayan penumpang, dan anak buah kapal).

5. Karena KDT memiliki wilayah yang luas, Forum mengusulkan agar ada lembaga nasional yang siap siaga dan tanggap bencana di KDT, seperti Basarnas. Hal tersebut sungguh diperlukan karena Danau Toba sudah ditetapkan sebagai destinasi unggulan pariwisata Indonesia.

6. Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan negara maritim. Hal ini menjadi penting bagi negara/pemerintah untuk lebih memperhatikan dan mempertimbangkan faktor keselamatan dan keamanan pelayaran (maritim) di Indonesia, terutama dalam aspek pariwisata.

7. Forum menghimbau agar meningkatkan komunikasi dan koordinasi yang intens antarpemerintah di tujuh kabupaten KDT sebagai pengelola jasa angkutan maritim di Danau Toba agar dapat memberikan keselamatan dan keamanan bagi para penumpang kapal.

8. Pengembangan pariwisata KDT mengedepankan tata kelola yang rasional dan ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan menolak ritual animisme di KDT.

9. Aksi 1.000 Lilin dan Doa Bersama untuk Tragedi Danau Toba akan digelar. Pelaksanaan acara tersebut untuk menggalang dana kemanusiaan bagi para korban dan kebutuhan lainnya. Acara direncanakan pada Sabtu (23/6/2018) dan akan dipublikasikan kemudian. Klik Disini

10. Aparat terkait seperti Polisi Air dan Polres setempat terkesan tidak siap, tanggap, dan bereaksi cepat. Ini menjadi catatan tersendiri untuk menjadi perhatian Polda Sumut dan Polri.

11. Terakhir, Forum ini merupakan solidaritas masyarakat KDT yang netral dan bebas dari kepentingan politik.


Demikianlah penyataan sikap Forum Peduli Tragedi Danau Toba. Anggota Forum yang hadir menyatakan sikap tersebut antara lain:
• Maruap Siahaan (YPDT)
• Ronsen Pasaribu (FBBI)
• Laurensius Manurung (YP2KDT)
• Kepler Marpaung (PK-ERDT)
• Darman Saidi Siahaan (Nabaja)
• Fendy Manurung (Parbi)
• B. Salmon Siagian (GPGBB)


Turut hadir juga antara lain: Hank van Apeldoorn, Marolop Sinaga, Parlin Sihombing, dan Boy Tonggor Siahaan.


Jakarta, 20 Juni 2018

Narahubung: Boy Tonggor Siahaan (WA 081310007681)

Press Release GMKI WILAYAH I SUMUT-NAD

Kapal Tenggelam, Tanggung Jawab Siapa?

HORAS - Kapal KM Sinar Bangun tenggelam di perairan Danau Toba, Sumatera Utara, pada pukul 17.30 WIB. "Kapal KM. Sinar Bangun karam di perairan Danau Toba Prapat diduga akibat cuaca buruk," katanya, Senin (18/6/2018). Dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Tigaras Parapat, Kabupaten Simalungun.

Dari data dari komando daerah militer I/BB sebanyak 185 korban baik nahkoda dan penumpang. 18 orang dengan selamat, 1 meninggal dan 166 yang hilang. Pemerintah pusat harus langkah cepat menangani kejadian ini. Apalagi terkhusus kepada pemerintah daerah kabupaten samosir dan simalungun harus singkron dan saling kerja sama.

Dalam keberangkatan penumpang di dalam kapal harus betul-betul pengawasan ketat. Bahkan pemerintah daerah harus tahu berapa kapasitas kapal dan ukuran kapal. Jangan sampai melebihi kapasitas, mengapa pengelola/syahbandar menginzinkan hal ini. Sangat aneh rasanya kalau pemerintah daerah tidak peka dengan tamu dan rakyatnya.

Penyebab kejadian ini sangat kompleks dan menunjukkan sangat bobroknya sistem pengaturan, pengendalian, dan pengawasan pelayaran kita, khususnya terkait pengawasan kelaiklautan kapal, manajemen keamanan dan keselamatan pelayaran, serta sistem telekomunikasi pelayaran (UU no 17 tahun 2018 tentang Pelayaran).

Melihat peristiwa memilukan seperti ini dapat terjadi di Danau Toba yang sedang digaungkan kembali sebagai objek wisata prioritas berskala internasional, maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi sistem pelayaran kita di daerah lainnya di seluruh Indonesia. Pemerintah provinsi sumut harus betul-betul siap untuk destinasi pariwisata, terkhusus dalam angkutan darat, udara dan danau/laut.

Undang-Undang no.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran menyatakan bahwa pelayaran adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas angkutan di perairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim. Sedangkan keselamatan dan keamanan pelayaran adalah suatu keadaan terpenuhinya persyaratan keselamatan dan keamanan yang menyangkut angkutan di perairan, kepelabuhanan, dan lingkungan maritim.

Sangat disayangkan, harus ada korban, baru kita diingatkan tentang bobroknya sistem pelayaran kita. Padahal Presiden RI Ir. Joko Widodo sangat memiliki visi yang besar untuk memperbaiki bangsa dan negara ini, sayangnya tidak didukung pejabat di bawahnya yang serius dan berani membenahi sistem dilapangan yang langsung bersentuhan dengan pelayanan masyarakat langsung. Harus ada yang diganti. Harus ada perombakan besar-besaran. Jika tidak, lantas siapa yang bertanggung jawab atas kasus kecelakaan kapal itu? Siapa yang bertanggung jawab jika terus menerus pembiaran merajalela.

Berdasarkan UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, selain nakhoda dan pemilik kapal yang harus bertanggungjawab bahkan bisa dikenakan pidana karena kejadian yang menimbulkan korban jiwa ini, ada beberapa pihak lain yang juga harus bertanggungjawab. Undang-Undang Pelayaran, yang bertanggungjawab ini mulai dari level paling teknis hingga paling tinggi : Nahkoda, Pemilik Kapal, Syahbandar, Bupati, Gubernur, Tim SAR (Basarnas), bahkan Menteri Perhubungan republik indonesia. Belum lagi kita bahas soal Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 39 Tahun 2017 Tentang Pendaftaran dan Kebangsaan kapal. Semua stakeholder harus memahami uu tersebut, biar tidak asal-asal menjabat dan bekerja.

Persoalan tanggungjawab ini juga harus sinkronisasi dan runut, tidak boleh ada yang satu tidak mengetahui dengan yang lain.

Kami dari Keluarga Besar GMKI sangat Turut berdukacita atas kejadian ini, semoga Tuhan Allah menguatkan keluarga yang ditinggal.


Salam,
Swangro Lumbanbatu, ST, MSI
Korwil I GMKI SUMUT-NAD

Masyarakat Danau Toba Menangis : TANGIANG TU TAO TOBA


HORAS - Terkait Tenggelamnya Kapal Penumpang di Danau Toba, Forum Peduli Tragedi Danau Toba bersepakat melakukan beberapa agenda, diantaranya mengadakan:

Malam Doa dan Keprihatian atas Tenggelamnya Kapal Penumpang di Danau Toba.

Tangiang tu Tao Toba


Acara rencananya akan Diadakan
Hari : Sabtu 23 Juni 2018
Pukul : 19.00-21.00
Tempat : Halaman Parkir UKI (belakang Bandrek UKI)
Kapasitas Tempat : 3.000 Orang.


Acara:

  • Kebaktian
  • Andung-andung Bonapasogit (By Martahan Sitohang Cs)
  • Ende Sian Topi Tao (PARBI - Persatuan Artis Batak Indonesia)
  • Penyalaan Seribu Lilin
  • Pernyataan Sikap Keprihatinan

  • Dsb


  • Masyarakat Danau Toba Menangis

    Catatan: DressCode (pakaian/seragam) serba hitam.


    Tapasadama Rohanta..!!

    Inilah Seruan dan Undangan untuk kita menghadirinya..!!


    Mauliate... Tuhan memberkati..

    HORAS.
    Mejuahjuah..
    Njuahnjuah..



    Narahubung
    Boy Tonggor Siahaan : (WA 081310007681)
    Darman S Siahaan : 0813 1070 4182

    Perempuan Batak = Boru Ni Raja


    Pesona, Boru Batak


    HORAS - Dalam tulisan “Perempuan Batak Memecahkan Kebisuan” saya coba menemukenali makna dari tajuk itu. Berawal dari itu pula saya terpikir mengkaji ulang bersama kita semua beberapa kata sandang bagi perempuan batak yang selama ini diberlakukan dan mungkin sudah dilupakan.

    PEMBUKA

    Ternyata masih banyak yang harus dikupas tuntas. Kaum feminis menganggap perempuan dalam berbagai budaya etnik didiskriminasi. Budaya dituding bertanggungjawab dalam hal perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

    Kemudian … jaman dari tradisional ke modern perlahan berubah. Doktrin baru muncul dengan perlakuan kepada perempuan di kelas dua. Ada kotbah mengatakan bahwa perempuan yang tunduk kepada suami adalah citra dirinya sebagai perempuan yang baik. Perempuan dikatakan harus mengabdi kepada suaminya.

    Namun sepanjang penelusuran dalam kebudayaan batak, perempuan tidak pernah dianggap sebagai pelengkap hidup laki-laki. Dari mitologi Deak Parujar justru Odapodap yang melengkapi hidup Deak Parujar.

    Perempuan adalah “boru ni raja” karena mereka kaum ayahandanya menjadi terangkat dalam posisi “hula-hula” dengan persyaratan perlikaku kepada mereka harus “somba” dengan pengertian harus dihormati.

    Beberapa kalimat sandang bagi perempuan batak perlu kita bahas untuk mengenali kebudayaan batak itu dan sikapnya memandang status perempuan dalam rumah tangga dan masyarakat.

    Boru Sorang

    Dalam tulisan Bapak RB Marpaung sudah dijelaskan bahwa kata “tubu” dan “sorang” memiliki makna sama yaitu “lahir”. Bila pada laki-laki dikatakan “tubu” karena dia tetap berada pada klannya dan penerus di klannya itu. Perempuan disebut “sorang” mengartikan bahwa dia bersifat sementara berada dalam klan orang tuanya menunggu “muli” kembali kepada hakekat yang dituju “pagopas parik ni halak” memperkuat benteng kekuatan marga lain yang kemudian menjadi klannya.

    Boru Nadonda

    Sejak remaja perempuan batak sudah dicecoki berbagai perilaku standar yang diharapkan sebagai implementator kesopanan tingkat awal. Dia diperkenalkan tiga warna batak melalui untaian benang yang dirangkai menjadi ulos. Hati bersih dan suci dimaknai warna putih. Dia harus welas asih sebagai bekal untuk penyandang kata “parbahulbahul nabolon”. Dengan warna merah (nabara) dia dididik menjadi cerdas, fowerfull sebagai penata laksana kehidupan yang langgeng dan berkesinabungan dalam keluarganya.

    Dia guru pertama kepada setiap generasi dimunculkan. Dengan warna hitam, dia dikenalkan kepemimpinan, menata sikap dan perilaku, sebagai cerminan pertama bagi generasi yang dilanjutkannya. Keteladanan dalam semua sikap. Awal dia menerima anugerah kehormatan dikala dia kelak menjadi ibu rumah tangga dan dalam klan marga suaminya menjadi “paniaran”.

    Walau tidak semua perempuan pelaku pembuatan ulos, namun pengenalan makna “mangunggas” mencerahkan dan merubah kekusaman menjadi kilauan, “mangani” menata untaian panjang sedang kombinasi warna, “martonun” memadukan untaian warna warni menjadi satu kesatuan, “manirat” memagari semua untaian yang sudah disatukan itu untuk tidak bercerai berai, sudah diperkenalkan.

    Pangahit

    Lihatlah, tortor perempuan itu kelihatan monoton dan kurang berkembang. Tapi harus diingat, tortor itu memiliki pakem yang kuat dan menjadi pengamatan penting mengenali perempuan dengan segala sikap dasarnya melalui tortor itu.

    Badan tegak dan lurus, “mangurdot” tanpa goyangan kesamping, bagaikan alu menumbuk padi dalam lesung. Bila ada hentakan miring maka resiko padi akan terburai keluar.

    Tangan menyembah dan mengait kearah tubuh. Menghormati semua pihak, menghormati penciptanya dengan harapan mendapat berkah atau manfaat pada dirinya.

    Tangan dibuka datar diatas pundak. Seandainya ada benda diatas tangan itu tidak akan jatuh. Dia memikul segala tugas dan perannya tanpa goyah, sepenuh hati.

    Tangan melayang dari samping menuju perut. Telapak tangan ditekuk, persis seperti mengumpulkan padi dalam jemuran atau mengais/mengumpul beras diatas tampi. Ini disebut “mangahit”. Segala kegiatan yang mendapatkan buah semuanya diarahkan kepada dirinya dan menjadi bekal dalam kehidupan yang disebut “paiogon” yang dikumpulkan dalam “bahul-bahul” bekal kehidupan sepanjang tahun.

    Boru Oroan

    Disebutkan kepada perempuan yang sudah memiliki jodoh atau tunangan. Jaman dulu oroan bisa saja sejak kecil. Syaratnya mereka saling kenal dan dapat bermain bersama. Oroan dalam status ini boleh saja berubah setelah dewasa dan menolak perjodohan ini. Kedua belah pihak tidak ada saling tuntut dan permusuhan karenanya.
    Bila berlanjut, tahap kedua orang tua masing-masing membuat adat pemberian “tarintin” tanda pertunangan oleh orang tua laki-laki kepada orang tua perempuan dan kepada perempuan itu sendiri.
      Pada kondisi ini, perempuan sudah “marmeang muli” mekar ibarat bunga harum dan memancing kumbang untuk hadir.
    • Boru oroan dikenal dengan mengalihkan untaian rambutnya yang panjang ke dada dari pundak sebelah kanan.
    • Boru oroan pantang digoda lagi, dan sanksinya adalah hukum adat. Pendekatan pergaulan kepada boru oroan adalah mendukung kekuatan “pagar” dirinya, untuk setia dan gambaran kesiapan menuju rumah tangga yang kekal.

    Berbeda pada kondisi saat ini. Pada umumnya laki-laki menggoda perempuan siapa saja yang menarik bagi dirinya. Mereka sering melontarkan kata-kata yang tidak ber-etika adat batak; “yang sudah menikah pun bisa cerai, apalagi hanya tunangan”


    Inong, Inang, Ina, ina-ina, inang-inang


    Inong, biasanya sebutan atau panggilan kepada ibu yang melahirkan. Induk dari keberadaan manusia yang dilahirkan. Yang terdekat dengan diri sendiri. Yang tidak bisa terputus dari batin karena tubuh pernah bersatu. Bila dalam batin ada kemelut tak terpecahkan maka yang terkenang pertama adalah Inong. Tempat bertanya, mengadu adalah inong. Bila dia jauh, maka yang mampu dilakukan hanya “mang-inong-i”.

    Inang. Ada yang mengartikan sama dengan inong, namun sebenarnya ada perbedaan. Sebutan inang lebih umum. Bisa disebutkan kepada semua orang sebagai penghormatan awal. Bila kemudian orang itu diketahui sebagai “boru” maka sebutan awal itu tidak salah. Kepada “bao”, mertua sebutan ini sesuai. Kepada anak perempuan kandung juga sering digunakan.

    Ina, adalah sebutan untuk perempuan berumah tangga secara umum. Cenderung untuk membedakan penempatan antara laki-laki dan perempuan. Secara khusus diartikan ina, adalah perempuan yang bertanggungjawab sesuai dengan harkatnya sebagai ibu rumah tangga.

    Ina-Ina, sebenarnya sebutan yang kurang sopan. Ini sekaitan dengan sikap perempuan yang tidak memiliki sikap perilaku sebagai Ina. Dari penyebutan itu dapat diartikan makna jamak. Tidak menyebutkan status kehormatan diantara perempuan yang lebih dari satu orang itu.

    Inang-Inang, adalah sebutan kepada perempuan yang tercela. Perempuan yang berperilaku buruk dan tersesat biasanya disebut inang-inang. Diparinang-inang, adalah sebutan kepada perempuan yang melakukan hubungan dengan laki-laki secara tidak sah, hubungan gelap yang ketahuan. Inang-inangna, dikatakan kepada perempuan yang mau dan rela diperlakukan sebagai isteri gelap dari seorang laki-laki.

    Mulanya para perempuan yang ulet memperjuangkan keluarganya melakukan pekerjaan seperti berdagang di tempat terlarang, sehingga mereka disebut inang-inang. Sebutan ini semakin popular saat ini, bahkan masyarakat batak sendiri sudah mengucapkannya. Dan para perempuan itu tidak melakukan protes lagi dijuluki inang-inang. Sebenarnya ini harus ditolak.

    Inang namora boru

    Sebutan kehormatan kepada kaum perempuan yang sudah berumah tangga. Sering didengar dalam acara adat ketika sesorang “marhuhuasi” memulai “hata”. Sebutan ini berlaku umum untuk semua kalangan partuturon.

    Untuk kalangan khusus seperti “parumaen” menantu dan boru disebut Inang namora i.

    Ina Batak Mardingding

    Kata ini disandang perempuan karena kebijaksanaannya menerapkan batas informasi domestik ke publik. Apapun polemik dalam rumah tangga tidak akan dibawa keluar. Dia mencegah keutuhan seisi rumah menjadi pergunjingan publik.

    Ina Batak Marparapara

    Bara, kolong rumah adalah tempat penyimpanan barang/alat kerja seharihari. Jabu, tempat tinggal dan dan barang kebutuhan makan sandang sehari-hari.

    Parapara, tempat barang yang jarang digunakan.
    Seorang perempuan yang bijak selalu memiliki simpanan/cadangan yang kurang diketahui suami dan seisi rumah. Tindakan ini jauh dari kategori ketidakjujuran.
    Bila suatu ketika ada kemelut ekonomi keluarga, perempuan sering memberi solusi dengan apa yang dicadangkannya secara bijaksana. “Siantan sidabuan siboto buhu ni partaonan”. Mampu mengatur bekal hidupnya hingga tidak menuai masalah bekal dalam (minimal) setahun berjalan.


    Parbahulbahul Nabolon.

    Diperankan perempuan bukan hanya perumpamaan hati yang lapang saja. Dalam tradisi batak, bahul-bahul ada dalam kekuasaan perempuan. Bila seorang suami membongkar padi dari bahulbahul tanpa sepengetahuan istri, maka akan tercela dia.

    Keputusan jadi atau tidak dilakukan hajatan yang menggunakan dana, keputusannya ada ditangan isteri. Bila isteri menghindar dalam arti tidak setuju, ada beberpapa hal yang harus diamati.
    Pertama, cadangan menyempit, sumber pendukung yang segera dapat diperoleh belum jelas. Kedua, hajatan itu terlalu besar bentuknya dan membutuhkan penyederhanaan.


    Soripada

    Ada falsafah batak mengatakan, “raja pe ama pinaraja ni ina” Sang suami terhormat atas peran perempuan. Peran perempuan sangat besar memberikan dorongan kepada suami agar terhormat dihadapan publik. Berdasarkan itu pula perempuan disebut soripada. Perempuan yang mengekang peran suami di masyarakat akan memenggal kemampuannya berperan di tengah masyarakat.

    Tidak ada Raja tanpa Soripada dan sebaliknya.
    Perempuan yang menunjukkan perannya sebagai pengasuh, pengayom, pembaharu dalam kehidupan, mampu menimbang dalam permasalahan, inilah yang kemudian yang berhak “martali-tali bonang”. Dia juga disebut “soripada mulia”.


    Pardihuta

    Perempuan “isteri” adalah pemilik hak terhadap harta benda yang ada di kampungnya. Dalam hal keputusan penjualan padi dari lumbung “bahul-bahul”, ternak kecil yang hidup dan besar di seputar pemukiman “huta” adalah keputusannya. Bedanya adalah dalam hal ternak yang besar di ladang “adaran”. Penjualan kerbau lembu dan kuda harus ada persetujuan dari suami. Ini karena suami memiliki peran “parmahan” gembala ternak itu.

    Pardijabu

    Dia memiliki hak seisi rumah. Suami hanya memiliki hak pertimbangan. Penata hidup dalam rumah adalah wewenang perempuan. Suami ada dalam peran “pangaramoti” mengamankan seisi rumah dalam arti fisik dan material. Seorang suami yang mengambil padi dari bahulbahul (lumbung) tanpa sepengetahuan isteri maka dia akan tercela setingkat pencuri. Beda bila itu dilakukan isteri tanpa sepengetahuan suami, karena itu haknya sebagai ina dan pardijabu.

    Puang Bolon

    Isteri mahkota, biasanya sebutan ini ada bila ada isteri lebih dari satu orang. Isteri pertama yang sah dalam hukum adat. Dia yang berhak duduk di jabu bona. Dia yang memberi kesempatan menikah kedua bagi suaminya dalam alasan tertentu. Dia akan menghitung jumlah anak-anaknya dengan yang dilahirkan isteri kedua suaminya.

    Tuan Laen

    Imbang, “isteri kedua” yang direstui isteri pertama “puang bolon” dan sah dalam hukum adat. Dia memiliki hak yang sama dengan puang bolon. Nama anak yang dilahirkan tuan laen berhak disandang puang bolon bila belum melahirkan anak. Dia mendapatkan “jambar tataring” seperti puang bolon. Urutan anak yang dilahirkan sesuai dengan kelahirannya karena harus mengikuti silsilah ayahnya, bukan berdasarkan siapa ibunya.

    Jolma

    Semua anak yang dilahirkannya (jolma) akan mengikuti marga suaminya. Dalam berbagai daerah di tanah batak ada sebutan kepada isteri itu “jolmana”. Sebutan ini tidak popular karena tidak menyandang arti kehormatan bagi perempuan. Ada yang menyebutkan bahwa sebutan ini adalah biasa-biasa saja, dan sebagian mengatakan adalah sebutan kurang terhormat. Jolmana, tidak sepadan dengan pengertian soripada. Ada yang mengartikan sebutan itu kepada isteri yang belum disahkan dalam adat, seperti “na so pangahua” dan “rading” tapi sudah dianggap isteri yang sah dan diijinkan di dalam kampung.

    Di Samosir sebutan jolmana kepada isteri seseorang masih melekat. Sepertinya tidak ada lagi sanggahan atas sebutan itu. Semakin lama sebutan ini menjadi kebiasaan tanpa mempersoalkan mengandung rasa hormat atau tidak. Dualisme pemahaman tentang sebutan jolmana kepada isteri seseorang perlu pembahasan yang lebih mendalam.

    Na so pangahua

    Isteri yang tidak memiliki kekuatan hukum adat. Lajim disebutkan bagi isteri yang muncul sendiri tanpa ada proses yang layak di dalam hukum adat perkawinan. Isteri yang dinikahi karena “kecelakaan moral”, melakukan hubungan terselubung yang minta pertanggungjawaban kepada lelaki untuk diperisteri. Sering terjadi si perempuan menjadi isteri kedua dan tidak diijinkan memasuki kampung. Dia diasingkan di tempat lain. Dia tidak memiliki hak yang sama dengan isteri pertama suaminya.

    Rading

    Seorang perempuan yang berperan sebagai pembantu dalam rumah tangga bila diperistri induk semangnya dinamakan rading. Semua yang dilahirkan dari rading tidak punya hak waris dari harta atau kedudukan, dengan pengertian tidak dapat diangkat meneruskan peran dari ayahnya. Namun bila puang bolon dan tuan laen memberi restu, anak rading dapat terangkat statusnya dan memiliki hak pewarisan dari ayahnya. Bila puang bolon atau tuan laen tidak memiliki anak laki-laki, mereka dapat mengangkat anak radingnya seperti anak sendiri. Mereka mengadakan tonggo bius dan harus menjamu seluruh raja huta dan raja horja serta memotong ternak yang biasa digunakan untuk “adat tompas bongbong” mengukuhkan status rading dan anaknya dalam keluarga itu.


    PENUTUP
    Secara umum, penghormatan dan penghargaan harkat perempuan itu sudah menjadi bagian kebudayaan batak. Adapun penyebutan ketidaknyamanan kepada perempuan adalah berdasarkan sikap dan perilakuknya sendiri.

    Tidak dipungkiri, sebagian anak dari isteri yang dianggap tidak kuat dalam adat akan mengalami nasib buruk dalam status kemasyarakatan. Walau hal ini jarang terjadi, tetap juga kita ungkapkan sebagai fakta yang pernah terjadi.

    Bila kita menyaksikan para pria dalam acara adat “marhata” apakah itu gambaran diskriminasi perempuan? Harus diingat, demokrasi adalah bagaimana keputusan dilakukan. Jelas, perempuan simpul terakhir dalam pembuatan keputusan. Bila marhata dilakukan pria, itu bukan pengambilan keputusan, tapi penghormatan dalam struktur adat. Keputusan awal ada dalam rumah tangga, disana peran perempuan tidak boleh diabaikan dan ini merupakan inti. Upacara adat hanya proses legislasinya.

    Bila saya (laki-laki) memberikan persembahan (penghormatan, ada yang dengan bentuk jambar dari daging kepada hulahula (termasuk mertua) adalah lebih baik dibanding bila dilakukan isteri.

    Di kalangan batak, lebih terhormat seorang suami bila dikatakan “dirajai ina” dibawah ketiak isteri daripada seorang suami yang tidak memberi wewenang kepada isteri mengelola harta dan kehidupan seharihari. Sebab Ina dalam status terhormatnya tidak akan menghancurkan keluarga itu. Biasanya dilakukan kepada suami yang tidak mampu mengatur ekonomi dan boros.

    Seorang suami yang terpaksa melakukan penataan keuangan keluarga dan tidak memberikan wewenang kepada isteri ada juga karena isteri “martangan pudi” Melakukan pengeluaran untuk menyantuni pihak orang tuanya tanpa sepengetahuan suami. Ini jauh dari kriteria seorang ina.

    Dalam proses terjadinya satu perkawinan, jelas akan dibahas bagaimana perempuan itu diperlakukan saat akan menjadi bagian dari keluarga suaminya. Hal ini akan kita bahas dalam topik lain ; Sinamot Ni Boru.


    Artikel ini ditulis oleh Monang Naipospos, dan telah dipublikasikan di tanobatak.wordpress.com dengan judul PESONA, BORU BATAK.

    Terimakasih kasih kepada bapak RB Marpaung dan bapak Bonar Siahaan yang membantu pembuatan tulisan ini.

    Hak Perempuan / Boru Batak Setelah Menikah


    HORAS - Ketika hendak menikahkan anak perempuan batak, SINAMOT NI BORU selalu dibicarakan namun yang menerima adalah parboru. Apa demikian yang sebenarnya?

    Dalam tradisi batak saat ini yang terbayang adalah, berapa banyak duit yang akan diterima pihak orang tua perempuan (PARBORU). Mereka melakukan kalkulasi, beli pakaian dan perhiasan, beli ulos, beli ikan (dengke) ongkos (khususnya yang dibona pasogit). Semuanya itu dikatakan SINAMOT NI BORU.

    SINAMOT NI BORU

    Pada tradisi batak lama, setiap perempuan yang hendak dikawinkan harus dijamin hidupnya kelak setelah menjadi “pardihuta” bagi suaminya dihadapan mertuanya. Jaminan itu dibahas berapa besar dari harta calon mertuanya itu yang menjadi bagiannya. Ini disebut MANGGOLI, ada batasan yang jelas yang kelak menjadi PANJAEAN.

    Harta benda itu terdiri dari, ruma, sopo, emas, gong, sawah, ternak yang terdiri dari kerbau, sapi dan kuda. Inilah yang disebut SINAMOT. Sinamot itu adalah harta benda yang menopang kehidupan dan kesejahteraan.

    MANGGOLI SINAMOT, tujuannya agar kelak tidak terjadi konflik diantara keturunan paranak. Inilah yang kemudian ditinjau kembali oleh pihak orangtua perempuan saat dilakukan TINGKIR TATARING, ketika orangtua lakilaki melakukan acara PAJAEHON (memandirikan) pasangan itu.

    Saat manggoli sinamot, raja parhata dengan tegas melakukan permintaan kejelasan akan sinamot ni boru ini, menguraikan beberapa bagian dari jenis harta yang lajim dalam pembagian hak waris.

    Saya berikan satu contoh dari kedua keluarga yang memiliki harta benda yang lengkap.
    Pihak paranak menjawab permintaan pihak parboru ;
    Nauli Rajanami, ianggo sinamot ni borumu, rade ma sada ruma, saparinaan horbo, sandangka mas, dua turpuk hauma saba, jala bagianna ma porlak sisoding. Ba mamuhai tataringna ba rade ma 200 ampang eme.
    Yang menjadi bagian mereka kelak ada satu rumah, sepasang kerbau, seuntai emas, dua petak sawah dan kebun. Untuk memulai kemandirian mereka akan diberikan 200 kaleng padi. Disini dijelaskan bila mereka tidak memiliki gong, lembu dan kuda.

    Setelah ini disepakati, barulah pihak parboru menanyakan “adat marama”. Ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada orangtua yang membesarkan, membimbing dan merawat hingga dewasa. Ini dikaitkan dengan istilah “pagopas panoguna” memperkuat upaya menarik hati. Tapi dalam bahasa adat lajim disebut “somba maruhum”.

    Dalam tradisi lama dengan contoh diatas, paranak menjanjikan satu ekor kerbau sebagai SOMBA NI UHUM. Kerbau ini diantarkan ke kampung halaman PARBORU pada waktu yang ditentukan.

    NAPOSO bersiap membuka pintu gerbang kampung dan mereka kemudian disebut SIUNGKAP BAHAL. Saudara PARBORU bersiapsiap membuka pintu kandang “BARA” inilah yang kemudian disebut PAMARAI.

    Pamarai dalam kaitan ini tidak dapat disamakan dengan pengertian MANGABARAI memikul beban di pundak.

    PAUSEANG

    Dalam anak TUBU BORU SORANG keterangan pauseang ini sudah lebih jelas. Ini merupakan penegasan bahwa bila parboru menuntut hak waris anaknya yang disebut PANJAEAN, dia juga berkewajiban untuk memberikan hak waris kepada putrinya yang disebut PAUSEANG.

    LEGISLASI HAK WARIS

    Setelah cukup waktunya menurut PARANAK maka dilakukan acara PAJAEHON. Mereka menjadi keluarga baru yang mandiri, akan mengelola semua SINAMOT yang sudah dijanjikan sebelumnya. Manjae bisa saja tetap dalam satu rumah tapi jelas pemisahannya dengan istilah MARHUDON PANJAEAN MARTALAGA OLAT-OLAT.

    Dalam acara ini langkah parboru disebut TINGKIR TATARING. Pada saat itu parboru dapat menyaksikan semua SINAMOT NI BORU itu dalam bentuk nyata. Bila kerbau, dapat sentuh, sawah dapat dipijak, kebun juga disaksikan dengan mata sendiri. Emas juga diperlihatkan dan ditimbang. Ini mempertegas bahwa tidak ada lagi silang sengketa kelak diantara menantunya bersaudara, karena sudah disaksikan sendiri dengan pengetua dan kerabat dekat kedua belah pihak.

    Setelah itu, pihak paranak melakukan kunjungan ke kampung halaman parboru. Mereka disebut MEBAT, artinya mangebati kampung halaman hulahula. Disini dimanfaatkan untuk mempertegas PAUSEANG yang telah dijanjikan parboru. Pihak paranak berhak mengunjungi sawah yang dijanjikan itu. Pada kesempatan itu juga dapat dibicarakan (jika mungkin) agar menantunya “marpauseang dihutana”. Ini bila tempat kedua belah pihak sangat berjauhan, hingga sangat merugikan kalau harus “marhauma tandang” mengolah sawah itu karena faktor waktu tempuh yang jauh. Harga jual, (bukan harga “dondon” gadai) sawah itu dialihkan membeli sawah di kampung halaman paranak.

    Bila acara UNJUK pelaksanaan perkawinan adalah DIALAP JUAL berada dihadapan parboru, maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut MEBAT. Pada acara ALAP JUAL inilah pihak parboru secara total terpenuhi haknya dalam adat dan disebut NANIAMBANGAN.

    Bila acara UNJUK dilaksanakan di hadapan paranak disebut DITARUHON JUAL, Pada acara TARUHON JUAL inilah pihak parboru tidak terpenuhi haknya dalam adat karena mungkin tatacara adat dan parjambaron tidak sesua dengan mereka. Mereka harus tunduk dalam hukum adat MARSOLUP DI HUNDULAN. Apa tata cara adat dan parjambaron di pihak paranak itulah yang mereka terima.

    Maka kunjungan ke tempat parboru ini disebut PAULAK UNE. Semua kekurangan dan yang tidak terpenuhi saat UNJUK, maka inilah saatnya memenuhi.


    Ini sangat bertentangan dengan pemahaman para pakar budaya batak saat ini yang mengatakan PAULAK UNE itu sebagai solusi mengembalikan pengantin wanita yang tidak perawan. Mereka mengartikan PAULAK UNE itu dengan mengembalikan “manusia” dengan baik. Ini tidak ada dalam kamus kebudayaan batak. Kata SIRANG memang ada dalam masyarakat batak dulu tapi prosesnya adalah PAGO SIRANG, bukan paulak une. Pago sirang ada aturan mainnya yang dapat kita bahas di lain kesempatan.

    Tidak semua masyarakat batak memiliki harta yang lengkap dan melimpah. Kadangkala dalam pembahasan (harta benda) SINAMOT itu tidak dapat memberikan janji. Pihak paranak hanya mampu menghaturkan sembah permohonan kepada pihak parboru. Tenggang rasa sudah sejak lama berlangsung. Bila pihak parboru lebih unggul dalam harta benda dari pihak paranak maka berlaku adat “tongka masipamaluan” jangan mempermalukan karena kelak mereka akan menjadi keluarga. “Napuran santampuk” sebagai wujud dari sembah penghormatan kepada parboru pun disepakati. Pihak parboru akan menanggung beban yang lebih besar. Walau proses yang tejadi adalah ALAP JUAL namun dalam hal pembahasan Sinamot dan Somba ni UHUM tidak ada hal yang memenuhi sehingga ada penghalusan istilah dengan SITOMBOL.

    Ini hanya sebutan, bukan bagian pembahasan dalam adat manggoli sinamot. Istilah SITOMBOL dan RAMBU PINUDUN sebenarnya adalah menutupi kekurangan akibat kemiskinan.

    Fakta saat ini, tidak ada lagi pemaknaan manggoli SINAMOT sebagai penjaminan hak perempuan di depan keluarga suaminya. Melulu membahas materi yang akan diterima PARBORU. Kesannya seperti MAHAR dan ada yang menyatakan seperti itu.



    Pergeseran pemahaman itu berangsur sejak pihak paranak menyatakan bahwa, kerbau, sawah, emas semuanya sudah dijual untuk menyekolahkan anaknya dan itulah (ilmu pengetahuan, pekerjaan) kelak menjadi PANJAEAN bagi mereka.

    Semakin jauh makna Sinamot ditinggalkan karena ada tradisi “langsung” saja. Tawar menawar pun terjadi, hitung hitung pos pengeluaran parboru; ulos yang akan diberi, dengke yang akan dimasak, ongkos rombongan yang diundang. Kesannya SINAMOT NI BORU tapi orang tua perempuan yang menghabiskannya.

    Di sela keruwetan pelaksanaan acara adat, ibu pengantin perempuan berkelana menemui semua undangannya dan menyalamkan uang ribuan dengan ucapan “godang do jujalo tuhor ni borunta” atau sesuai dengan hubungan kekeluargaan. Dia menyatakan telah menjual anaknya.

    Bila kedua belah pihak memang tidak memiliki harta benda untuk melaksanakan tata kelola adat perkawinan seperti lajimnya dilakukan orang berada, maka SINAMOT tidak lagi dibahas. Mereka memperkecil skop pelaksanaan adat itu. Bahkan tidak ada UNJUK (acara yang biasanya dilakukan di halaman terbuka) tapi dilakukan di dalam rumah. Acara ini disebut MANURUN. Paranak dan parboru berunding menanggulangi biaya.

    Apakah dari keluarga yang sangat miskin dapat melakukan perkawinan?

    Bila acara MANURUN yang paling sederhana tidak dapat dilakukan maka MANGEMBALHON GAJUT adalah jalan keluarnya. Hanya pengantin yang diberi ulos oleh parboru dan tulangnya bersama kerabat terdekat saja. Kadang tidak ada acara makan dan parjambaron. Kemudian ibu dari pengantin perempuan memberitahukan kepada para kerabat jauh waktu ketemu di onan perihal perkawinan yang sudah berlangsung itu.

    Proses perkawinan itu sah menurut adat, dan tidak boleh ada klaim seperti yang sering terdengar saat ini “dang maradat dope”. Yang menikah dengan cara mangembalhon gajut tidak berhutang lagi untuk melakukan pesta adat yang lebih besar walau kemudian menjadi kaya raya. Bila kemudian dia berniat memberi penghormatan kepada hula-hulanya karena sudah memiliki harta, tidak lagi disebut “mangadati”. Dia hanya memilki kesempatan dengan cara PAEBATHON PAHOMPU.

    Konflik pelaksanaan adat perkawinan saat ini berkembang karena tidak ada yang mau mengalah, tidak ada dasar pemikiran makna tradisi itu. Cenderung berlomba meriah tanpa mengukur kemampuan yang ada, “Paihutihut gaja marhonong”. Bila acara dilakukan dengan sederhana, ada pula yang menyindir, “pesta apa ini”.

    Banyak yang berkehendak untuk menyederhanakan tapi jarang yang mampu memulai. Adat perkawinan saat ini melelahkan karena lebih banyak asesori yang tidak penting daripada pemaknaan. Yang sederhana seperti MANURUN dan MANGEMBALHON GAJUT sudah dianggap tidak adat ladi. GOK NI ADAT dimaknai bila parboru menerima SINAMOT NI BORU dan ada acara yang meriah. Inilah yang dikategorikan para leluhur NATUNGGING DO NATEAL SONGON HUDON NA SO HINARPEAN.


    Artikel ini ditulis oleh Monang Naipospos, dan telah dipublikasikan di tanobatak.wordpress.com dengan judul MENJAMIN HAK PEREMPUAN BATAK SETELAH MENIKAH.